Tanyakan kepada APJ atau kepala gudang di PBF mana pun, “apa yang paling menyita pikiran selain masalah regulasi?” Jawabannya kurang lebih hampir selalu sama yaitu stok yang tidak bergerak.
Obat yang menumpuk di rak, angka di kartu stok yang tidak pernah berkurang, tanggal kadaluarsa yang semakin dekat, semuanya merupakan masalah finansial yang sering terjadi. Stok yang tidak terjual sebelum kadaluarsa tidak bisa dijual, tidak bisa diretur sembarangan, dan pada akhirnya harus dimusnahkan dengan biaya yang ditanggung PBF sendiri.
Di PBF berskala menengah, kerugian akibat stok kadaluarsa dan dead stock bisa mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah per tahun! Dan sebagian besar dari kerugian ini sebenarnya bisa dicegah dengan sistem manajemen stok yang tepat.
Artikel ini membahas secara lengkap bagaimana PBF seharusnya mengelola stok mulai dari penerapan FEFO yang benar, cara mengidentifikasi dan menangani slow moving dan dead stock, hingga konsep reorder point dan safety stock yang relevan untuk skala operasional PBF.
Daftar Isi
- 1 Manajemen Stok PBF Lebih Kompleks dari Apotek
- 2 Cara Kerja FEFO di Gudang PBF
- 3 Memahami Slow Moving dan Dead Stock di Konteks PBF
- 4 Identifikasi Slow Moving Sebelum Menjadi Dead Stock
- 5 Strategi Penanganan Slow Moving dan Dead Stock di PBF
- 6 Manajemen Reorder Point dan Safety Stock
- 7 Manajemen Stok Manual Tidak Lagi Cukup
- 8 Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- 9 Referensi
Manajemen Stok PBF Lebih Kompleks dari Apotek
Sebelum masuk ke dalam teknisnya, penting untuk memahami mengapa manajemen stok di PBF berbeda, lebih kompleks dibandingkan dengan apotek.
1. Volume SKU yang jauh lebih besar
Apotek rata-rata mengelola ratusan hingga ribuan SKU. PBF bisa mengelola ribuan SKU dari puluhan principal sekaligus. Satu SKU yang tidak terpantau bisa lolos sampai mendekati kadaluarsa.
2. Kompleksitas batch dan lot number
Setiap produk bisa datang dalam beberapa batch berbeda dengan tanggal kadaluarsa yang berbeda pula. Mengelola ini secara manual di skala PBF hampir mustahil dilakukan dengan akurat.
3. Tekanan dari pelanggan soal masa kadaluarsa
Apotek dan rumah sakit semakin ketat dalam menerima obat. Banyak yang mensyaratkan sisa masa kadaluarsa minimal 6 bulan, bahkan kadang diatas 12 bulan. PBF yang tidak mengelola rotasi stok dengan baik akan sering menerima komplain atau retur dari pelanggan.
4. Kewajiban CDOB
PerBPOM No. 20 Tahun 2025 menetapkan FEFO sebagai prinsip wajib dalam penyimpanan dan penyaluran. Kegagalan menerapkan FEFO adalah temuan saat inspeksi CDOB.
Baca Juga: Cara Menghindari Selisih Stok saat Stok Opname di PBF
Cara Kerja FEFO di Gudang PBF
FEFO (First Expired, First Out) adalah prinsip pengelolaan stok di mana produk dengan tanggal kadaluarsa paling dekat harus dikeluarkan terlebih dahulu, terlepas dari kapan produk itu masuk ke gudang. Berbeda dari FIFO (First In, First Out) yang mengeluarkan produk berdasarkan urutan masuknya. Di industri farmasi, FEFO selalu diprioritaskan di atas FIFO karena tanggal kadaluarsa adalah penentu mutu produk, bukan tanggal penerimaan.
Bagaimana FEFO Diterapkan Secara Praktis di Gudang PBF
Saat penerimaan barang
Setiap batch yang masuk harus langsung dicatat tanggal kadaluarsanya dan ditempatkan di posisi yang sesuai. Batch dengan expired date lebih dekat ditempatkan di depan atau di atas, yaitu posisi yang lebih mudah diambil saat picking.
Saat picking pesanan
Staf gudang mengambil barang berdasarkan expired date terdekat, bukan berdasarkan posisi yang paling mudah dijangkau. Ini memerlukan disiplin dan idealnya sistem yang memberikan informasi batch mana yang harus diambil lebih dulu.
Saat penyaluran
Faktur dan surat jalan harus mencantumkan nomor batch yang sesuai dengan produk yang benar-benar dikirim. Ini bukan hanya soal FEFO, tapi juga kewajiban traceability CDOB, yaitu setiap produk yang keluar harus dapat ditelusuri sampai batch-nya.
Kesalahan FEFO yang Paling Sering Terjadi di PBF
Staf mengambil barang yang paling mudah dijangkau, bukan yang tanggal kadaluarsanya paling dekat. Ini terjadi ketika tidak ada sistem yang memandu, staf di lapangan karena ingin bekerja cepat cenderung ambil yang terdekat.
Batch baru diletakkan di paling depan. Ini mengubur produk lama yang expired-nya lebih dekat di belakang. Hasil akhirnya stok yang seharusnya sudah keluar malah tertinggal.
Tidak ada label batch dan expired date di setiap posisi rak. Tanpa penandaan yang jelas, staf tidak bisa membuat keputusan FEFO yang benar meski mereka mau.
Baca Juga: SOP Penerimaan & Penyimpanan Obat PBF Sesuai CDOB
Memahami Slow Moving dan Dead Stock di Konteks PBF
Dua istilah ini sering digunakan bergantian, padahal keduanya berbeda secara status dan penanganannya.
Slow Moving
Slow moving adalah produk yang pergerakannya jauh di bawah rata-rata; masih terjual, namun lambat. Tidak ada definisi baku yang universal, tapi di konteks PBF biasanya diukur relatif terhadap rata-rata penjualan historis produk tersebut atau dibandingkan dengan stok yang ada.
Tanda-tanda produk slow moving:
- Produk yang bulan ini hanya keluar 10% dari stok yang ada, padahal rata-rata normalnya 60–70%
- Produk yang sudah 2–3 bulan tidak ada pesanan dari pelanggan manapun
- Stok yang terus bertambah karena pengadaan berjalan otomatis tapi penjualan melambat
Penyebab umum slow moving di PBF:
- Principal memberikan minimum order quantity (MOQ) besar, tapi permintaan aktual lebih kecil
- Produk kehilangan pangsa pasar karena ada produk kompetitor yang lebih murah atau lebih diresepkan
- Dokter peresep utama di area distribusi berhenti berpraktik atau berganti formularium
- Pengadaan berdasarkan intuisi tanpa data historis penjualan
Dead Stock
Dead stock adalah produk yang sudah tidak bergerak sama sekali dalam jangka waktu yang signifikan dan biasanya sudah tidak memiliki prospek untuk terjual sebelum kadaluarsa.
Di PBF, dead stock umumnya didefinisikan sebagai:
- Produk yang tidak ada transaksi keluar dalam 3 bulan terakhir dan sisa masa kadaluarsa di bawah 6 bulan
- Produk yang tidak ada transaksi keluar dalam 6 bulan terakhir terlepas dari sisa masa kadaluarsanya
Dead stock adalah tahap lanjut dari slow moving yang dibiarkan. Jika slow moving adalah peringatan, dead stock adalah kerugian yang sudah terjadi.
Implikasi dead stock bagi PBF:
- Biaya penyimpanan terus berjalan untuk produk yang tidak menghasilkan pendapatan
- Modal yang mati sehingga uang tidak bisa diputar untuk produk lain
- Jika kadaluarsa, tidak bisa disalurkan dan harus dimusnahkan dengan prosedur CDOB yang memerlukan waktu, dokumentasi, dan biaya
- Temuan potensial saat inspeksi jika tidak dikelola dan dipisahkan dengan benar
Baca Juga: 7 Kesalahan PBF dalam Manajemen Stok & Cara Mengatasinya
Identifikasi Slow Moving Sebelum Menjadi Dead Stock
Kunci pengelolaan stok yang baik ada pada kemampuan mendeteksi slow moving lebih awal sebelum situasinya tidak bisa diselamatkan.
Review Stok Berkala
Lakukan review stok secara terjadwal, minimal bulanan, dengan fokus pada:
- Laporan Dekat ED: Daftar semua produk dengan sisa masa kadaluarsa kurang dari 3 bulan. Ini adalah prioritas tertinggi, produk ini harus segera diakselerasi distribusinya atau dikembalikan ke principal jika masih dalam batas waktu retur.
- Laporan Slow Moving: Daftar produk yang pergerakan keluarnya di bawah threshold yang telah ditetapkan PBF. Misalnya: produk yang dalam 60 hari terakhir keluar kurang dari 20% dari stok yang tersedia.
- Laporan Stagnant: Daftar produk yang sama sekali tidak ada transaksi keluar dalam 90 hari terakhir. Ini kandidat dead stock yang perlu dilakukan tindakan segera.
Analisis ABC (Pareto 80/20) untuk Prioritas Pengawasan
Metode ABC atau yang juga dikenal sebagai Prinsip Pareto atau aturan 80/20, membagi produk menjadi tiga kategori berdasarkan kontribusinya terhadap total nilai penjualan. Prinsipnya sama, yaitu sebagian kecil item biasanya menyumbang sebagian besar nilai. Di manajemen stok PBF, ini berarti tidak semua SKU perlu dipantau dengan intensitas yang sama.
| Kategori | Karakteristik | Prioritas Pengawasan |
|---|---|---|
| A | ~20% item, menyumbang ~80% nilai penjualan | Sangat ketat. Review mingguan |
| B | ~30% item, ~15% nilai penjualan | Sedang. Review bulanan |
| C | ~50% item, ~5% nilai penjualan | Dasar. Review per kuartal, tapi waspadai slow moving |
Produk kategori C yang masuk daftar slow moving perlu perhatian ekstra. Kategori ini volumenya kecil tapi jumlah itemnya banyak, sehingga menjadi sumber dead stock yang sering tidak terdeteksi.
Strategi Penanganan Slow Moving dan Dead Stock di PBF
Deteksi produk saja tidak cukup. PBF wajib memiliki tindakan konkret setelah produk teridentifikasi.
Untuk Produk Slow Moving
1. Akselerasi distribusi secara aktif
Koordinasi dengan tim penjualan untuk mendorong produk ini ke pelanggan yang relevan. Tawarkan harga spesial jangka pendek atau bundling dengan produk fast moving; tentu dengan tetap memperhatikan ketentuan kewajaran pesanan CDOB.
2. Evaluasi pola distribusi
Periksa apakah ada pelanggan yang biasanya memesan produk ini tapi belum pesan dalam beberapa bulan. Hubungi secara proaktif, mungkin ada perubahan kebutuhan yang belum tercatat.
3. Tahan pengadaan ulang
Hentikan sementara pemesanan produk slow moving sampai stok yang ada bergerak. Ini terdengar sederhana tapi sering diabaikan, terutama jika sistem pengadaan berjalan otomatis berdasarkan reorder point yang tidak diperbarui.
Untuk Produk Dekat ED (sisa kadaluarsa < 3 bulan)
1. Retur ke principal
Ini adalah opsi terbaik jika masih dalam batas waktu yang diizinkan. Setiap perjanjian jual-beli dengan principal memiliki ketentuan retur yang berbeda, umumnya batas retur adalah 3–6 bulan sebelum kadaluarsa. Kenali ketentuan ini untuk setiap principal yang Anda distribusikan.
2. Pisahkan ke zona near-expired
Sesuai ketentuan CDOB, produk dekat ED harus dipisahkan dari stok reguler dan diberi label yang jelas. Ini mencegah produk tersebut ikut terdistribusi ke pelanggan.
3. Dokumentasikan setiap tindakan
Setiap keputusan terkait produk dekat ED harus terdokumentasi dan disetujui oleh APJ PBF.
Untuk Dead Stock dan Produk Kadaluarsa
Banyak yang langsung mengasumsikan barang dead stock harus dimusnahkan. Ini tidak selalu benar. Ada dua opsi yang harus dievaluasi secara berurutan:
Opsi 1 Retur ke Principal (prioritas utama)
Sebelum memutuskan pemusnahan, cek dulu apakah principal Anda menerima retur produk yang sudah atau hampir kadaluarsa. Ketentuannya berbeda-beda per principal dan biasanya tercantum dalam SPJB (Surat Perjanjian Jual Beli). Prosedur standarnya:
- PBF mengirimkan LBR (Laporan Barang Rusak/ED) ke principal
- Principal menerbitkan SJP (Surat Jawaban Principal) yang berisi salah satu dari dua keputusan:
- Produk diambil kembali oleh principal → dibuatkan Berita Acara Serah Terima (BAST)
- Produk dimusnahkan di PBF → lanjut ke Opsi 2
Penting: tidak semua principal menerima retur produk kadaluarsa. Beberapa hanya menerima retur untuk ED Dekat dengan sisa waktu minimal tertentu (misalnya 3 bulan sebelum ED). Produk vaksin hampir tidak pernah bisa diretur. Ketentuan ini harus dipahami dan dinegosiasikan sejak awal di kontrak.
Opsi 2 Pemusnahan (jika retur tidak dimungkinkan atau SJP menyatakan dimusnahkan)
Jika retur tidak bisa dilakukan atau principal memutuskan produk dimusnahkan di PBF, maka pemusnahan harus dilakukan sesuai prosedur CDOB:
- Dilakukan berdasarkan SOP yang terdokumentasi
- Disaksikan oleh APJ
- Didokumentasikan dalam Berita Acara Pemusnahan Barang (BAPB) yang mencantumkan nama produk, batch, jumlah, tanggal, metode pemusnahan, dan nama saksi
- Dilaporkan ke BPOM/Dinas Kesehatan setempat
Yang tidak boleh dilakukan: Membuang obat kadaluarsa seperti sampah biasa. Obat ED termasuk limbah B3 (Bahan Beracun dan Berbahaya), pembuangan sembarangan adalah pelanggaran serius dengan potensi sanksi pidana.
Manajemen Reorder Point dan Safety Stock
Masalah slow moving dan dead stock sering kali bukan hanya soal produk yang tidak laku melainkan juga soal pengadaan yang tidak tepat sejak awal. Dua konsep ini membantu PBF menentukan kapan dan berapa banyak harus memesan.
Safety Stock
Safety stock adalah stok cadangan minimum yang harus selalu tersedia di gudang sebagai buffer terhadap ketidakpastian; baik dari sisi permintaan yang tiba-tiba naik, maupun dari sisi pasokan yang terlambat dari principal.
Rumus dasar safety stock:
Safety Stock = (Permintaan Maksimum – Permintaan Rata-rata) × Lead Time
Contoh:
- Permintaan rata-rata produk X: 100 unit/minggu
- Permintaan maksimum (pernah terjadi): 150 unit/minggu
- Lead time dari principal: 1 minggu
Safety Stock = (150 – 100) × 1 = 50 unit
Artinya PBF harus selalu mempertahankan minimal 50 unit produk X sebagai buffer, di luar stok operasional normal.
Reorder Point (ROP)
Reorder Point adalah titik stok di mana pemesanan baru harus segera dilakukan agar stok tidak habis sebelum pesanan baru tiba.
Rumus Reorder Point:
ROP = (Permintaan Rata-rata × Lead Time) + Safety Stock
Menggunakan contoh yang sama:
- Permintaan rata-rata: 100 unit/minggu
- Lead time: 1 minggu
- Safety stock: 50 unit
ROP = (100 × 1) + 50 = 150 unit
Artinya: begitu stok produk X turun ke 150 unit, PBF harus segera membuat SP ke principal, jangan menunggu produk X sampai hampir habis.
Mengapa ROP Sering Tidak Akurat di PBF
ROP yang tidak pernah diperbarui adalah akar dari banyak masalah stok:
- Permintaan berubah tapi ROP tidak direvisi; produk yang dulu fast moving bisa menjadi slow moving jika ada perubahan pola peresepan atau kompetitor baru masuk
- Lead time principal berubah terutama untuk produk impor atau produk dengan stok terbatas di level nasional
- Musim mempengaruhi demand. Obat flu naik di musim hujan, obat diare naik di musim kemarau, ROP yang statis tidak menangkap pola ini.
Review ROP minimal setiap kuartal atau lebih sering untuk produk yang demand-nya fluktuatif.
Manajemen Stok Manual Tidak Lagi Cukup
Di atas kertas, semua konsep di artikel ini bisa dilakukan secara manual. Tapi di skala PBF yang mengelola ribuan SKU dari puluhan principal, dengan ratusan transaksi per hari, pendekatan manual memiliki satu kelemahan mendasar yaitu tidak bisa memantau ribuan titik data secara bersamaan dan real-time.
Review ED Dekat yang dilakukan manual bulanan sudah terlambat jika ada produk yang melewati batas retur principal. Reorder point yang disimpan di spreadsheet tidak otomatis memicu peringatan saat stok menyentuh threshold. Laporan slow moving yang dibuat manual memerlukan waktu berhari-hari untuk dikompilasi.
Digikes Supplier dirancang untuk menjawab tantangan ini. Dengan fitur analisis pembelian berbasis histori data penggunaan, ROP tidak lagi ditentukan berdasarkan intuisi atau angka statis yang jarang diperbarui melainkan dari pola permintaan aktual yang terdokumentasi. Setiap produk juga dilengkapi status stok real-time yang langsung menunjukkan apakah kondisinya normal, overstock, dead stock, atau potential loss sehingga APJ dan tim pengadaan bisa mengambil keputusan berdasarkan data, bukan perkiraan. Ditambah monitoring stok real-time dengan alert otomatis untuk near-expired dan slow moving, serta laporan manajemen stok yang tersedia kapan pun dibutuhkan tanpa menunggu rekapitulasi manual.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
Apa bedanya FEFO dan FIFO, dan mana yang wajib di PBF?
FIFO mengeluarkan produk berdasarkan urutan masuk. FEFO mengeluarkan produk berdasarkan urutan kadaluarsa. Di PBF, FEFO wajib dilakukan sesuai standar CDOB. Dalam praktiknya, keduanya bisa bersamaan jika batch yang masuk lebih dulu kebetulan juga memiliki expired date lebih dekat.
Seberapa besar stok dianggap “slow moving“, apa ada batasnya yang baku?
Tidak ada definisi regulatif yang baku untuk persentase atau periode waktu. Setiap PBF biasanya menetapkan threshold-nya sendiri. Yang umum digunakan adalah produk dikatakan slow moving jika pergerakan keluarnya dalam 60 hari terakhir kurang dari 20–30% dari stok yang tersedia. Angka ini perlu disesuaikan dengan rata-rata lead time dan pola demand produk.
Apakah produk slow moving boleh tetap disalurkan ke pelanggan?
Selama produk masih dalam kondisi baik, memiliki sisa masa kadaluarsa yang memadai, dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan pelanggan (misalnya minimal sisa 6 bulan), maka boleh.
Bagaimana jika principal tidak menerima retur produk slow moving?
Ini tergantung pada klausul perjanjian jual-beli (SPJB) dengan principal yang bersangkutan. Salah satu alasan mengapa klausul retur dalam kontrak dengan principal harus dinegosiasikan dengan cermat sejak awal.
Apakah dead stock yang sudah kadaluarsa boleh langsung dibuang begitu saja?
Tidak boleh. Obat kadaluarsa termasuk limbah B3. Sebelum dimusnahkan, cek dulu apakah bisa diretur ke principal melalui mekanisme LBR (Laporan Barang Rusak/ED) dan tunggu SJP (Surat Jawaban Principal). Jika principal memutuskan dimusnahkan di PBF atau retur tidak dimungkinkan, baru lakukan pemusnahan sesuai prosedur CDOB dengan BAPB (Berita Acara Pemusnahan Barang) dan melaporkan ke BPOM/Dinas Kesehatan setempat.
Berapa ideal tingkat stok yang kadaluarsa di PBF?
Tidak ada angka regulatif, tapi sebagai benchmark operasional, PBF yang sistem manajemen stoknya berjalan baik seharusnya memiliki tingkat obat kadaluarsa di bawah 0,1–0,5% dari total nilai penjualan per tahun.
Referensi
- Peraturan BPOM Nomor 20 Tahun 2025 tentang Standar Cara Distribusi Obat yang Baik (CDOB). Diakses di website pom.go.id
- Yudistira et al. Analisis Manajemen Stok Pergudangan di Perusahaan Distribusi Cirebon, Jurnal Bisnis, Manajemen, dan Ekonomi Vol. 5 No. 2 (2024)
- Riyondha Aprilian Brahmantyo, et al. 2023. Manajemen Persediaan Menggunakan Metode Safety Stock dan Reorder Point pada Jurnal Sains dan Informatika. Diakses di website politala.ac.id
- Epicheirisi: Jurnal Manajemen. 2024. Penerapan Metode FIFO dan FEFO dalam Pengelolaan Gudang Farmasi PT Rajawali Nusindo
