Laporan keuangan merupakan salah satu fondasi bisnis Pedagang Besar Farmasi (PBF) yang sering kali dianggap urusan akuntansi semata. Dari laporan keuangan, manajemen PBF bisa melihat apakah margin distribusi sehat, berapa besar piutang yang belum tertagih, seberapa efisien perputaran stok obat, hingga apakah arus kas cukup kuat untuk menopang pembelian produk dari prinsipal.
Lebih dari itu, laporan keuangan PBF juga berkaitan langsung dengan kewajiban pelaporan kepada regulator yaitu kepada Kementerian Kesehatan dan BPOM, serta kepatuhan perpajakan sebagaimana diatur dalam UU KUP dan standar akuntansi yang berlaku di Indonesia.
Artikel ini akan membahas secara lengkap bagaimana cara membuat laporan keuangan PBF yang benar, komponen apa saja yang wajib ada, dan hal-hal spesifik yang membedakan laporan keuangan PBF dari bisnis perdagangan lainnya.
Daftar Isi
- 1 Mengapa Laporan Keuangan PBF Berbeda dari Bisnis Lainnya?
- 2 Dasar Hukum Pembukuan PBF
- 3 Komponen Laporan Keuangan PBF
- 4 Alur Penyusunan Laporan Keuangan PBF Bulanan
- 5 Keterkaitan Laporan Keuangan dengan Kewajiban Pelaporan Regulasi
- 6 Tantangan Umum Laporan Keuangan PBF dan Solusinya
- 7 Kelola Laporan Keuangan PBF Lebih Mudah dengan Digikes Supplier
Mengapa Laporan Keuangan PBF Berbeda dari Bisnis Lainnya?
PBF adalah perusahaan distribusi bukan produsen, bukan pula pengecer. Karakteristik ini membuat laporan keuangannya punya beberapa kekhasan:
- Volume transaksi tinggi dengan margin tipis. PBF mendistribusikan ratusan hingga ribuan SKU obat ke puluhan bahkan ratusan outlet. Margin per produk relatif kecil, sehingga efisiensi operasional dan kontrol HPP menjadi sangat kritis.
- Piutang usaha mendominasi aset lancar. Karena hampir semua penjualan dilakukan secara kredit ke apotek, klinik, dan RS, piutang usaha biasanya menjadi komponen aset terbesar. Aging piutang yang tidak terkelola langsung mengancam arus kas.
- Persediaan obat punya risiko kadaluarsa. Berbeda dari barang dagangan biasa, stok obat yang mendekati tanggal kadaluarsa harus dikelola secara FEFO (First Expired First Out). Kerugian dari obat kadaluarsa harus dicerminkan dalam laporan keuangan.
- Kewajiban pelaporan ganda. Selain laporan keuangan internal dan pajak, PBF wajib melaporkan kegiatan distribusinya secara periodik kepada Direktorat Jenderal Kefarmasian (melalui e-Report) dan BPOM (melalui e-Was), yang datanya juga harus sinkron dengan catatan keuangan.
(Baca juga : Rahasia PBF Disukai Apotek : 7 Kunci Pelayanan untuk Keuntungan Maksimal)
Dasar Hukum Pembukuan PBF
Pembukuan PBF di Indonesia mengacu pada beberapa ketentuan sekaligus:
- Pasal 28 UU No. 28 Tahun 2007 tentang KUP : Mewajibkan Wajib Pajak badan untuk menyelenggarakan pembukuan sesuai standar akuntansi yang berlaku di Indonesia
- PMK No. 54/PMK.03/2021: Menegaskan pembukuan harus berdasarkan Standar Akuntansi Keuangan (SAK), atau SAK EMKM untuk usaha skala kecil dan menengah
- Permenkes No. 1148/Menkes/Per/VI/2011 jo. Permenkes No. 14 Tahun 2021: Mewajibkan dokumentasi seluruh kegiatan pengadaan, penyimpanan, dan penyaluran obat yang konsisten dengan pencatatan keuangan
- PSAK No. 14 : Standar akuntansi untuk pencatatan persediaan barang dagangan, termasuk obat-obatan
Komponen Laporan Keuangan PBF
Laporan keuangan PBF yang lengkap terdiri dari lima komponen utama sesuai PSAK (Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan), yaitu :
1. Laporan Laba Rugi
Laporan ini menunjukkan kinerja bisnis PBF dalam satu periode. Untuk PBF, struktur laporan laba rugi umumnya memiliki komponen sebagai berikut; Penjualan bersih, HPP (Harga Pokok Penjualan), Laba kotor, Beban operasional, Beban administrasi, Laba operasional, Pendapatan/beban lain dan Laba bersih.
Catatan khusus untuk HPP PBF:
Rumus HPP untuk PBF sebagai perusahaan dagang:
HPP = Persediaan Awal + Pembelian Bersih – Persediaan Akhir
Di mana pembelian bersih = total pembelian dari prinsipal + biaya angkut masuk – retur pembelian – diskon pembelian.
Akurasi HPP sangat bergantung pada stock opname yang disiplin. Obat kadaluarsa atau rusak yang tidak dikeluarkan dari sistem akan membuat persediaan akhir tampak lebih besar dari kenyataan. Dan ini berarti HPP terlihat lebih kecil dan laba kotor tampak lebih besar dari yang sebenarnya.
2. Laporan Posisi Keuangan (Neraca)
Neraca PBF mencerminkan posisi aset, kewajiban, dan ekuitas pada tanggal tertentu.
| Akun | Catatan |
|---|---|
| Kas & Setara Kas | Saldo rekening operasional |
| Piutang Usaha | Faktur yang belum dibayar outlet |
| Penyisihan Piutang Tak Tertagih | Estimasi piutang bermasalah |
| Persediaan Obat | Nilai stok berdasarkam harga perolehan |
| Uang Muka Pembelian | Pembayaran dimuka ke Prinsipal |
| Akun | Catatan |
|---|---|
| Bangunan dan Gudang | Dicatat nilai bersih (setelah akumulasi penyusutan) |
| Armada Pengiriman | Kendaraan operasional distribusi |
| Peralatan | Rak, Cold Storage, Termometer dll |
| Software PBF | Aset tak berwujud jika dikapitalisasi |
| Akun | Catatan |
|---|---|
| Utang Dagang ke Prinsipal | Faktur pembelian obat yang belum dibayar |
| Utang Pajak | PPh, PPN yang terutang |
| Beban yang masih harus dibayar | Gaji, ongkir dll yang sudah jatuh tempo |
KPI penting dari neraca: Bandingkan selalu antara piutang usaha dan utang dagang. Jika piutang jauh lebih besar dari utang dagang namun banyak yang sudah lewat jatuh tempo, arus kas akan tertekan meski laba rugi tampak bagus.
3. Laporan Arus Kas
Laporan arus kas PBF dibagi tiga aktivitas:
1. Aktivitas Operasional , yaitu arus kas dari kegiatan distribusi utama:
- Penerimaan dari pembayaran outlet (apotek, klinik, RS maupun sarana lain)
- Pembayaran ke prinsipal/produsen obat
- Pembayaran gaji, biaya gudang, pengiriman
- Pembayaran pajak operasional
2.Aktivitas Investasi yaitu pembelian/penjualan aset jangka panjang:
- Pembelian kendaraan pengiriman
- Renovasi/perluasan gudang
- Langganan software PBF, seperti Digikes Supplier
3.Aktivitas Pendanaan yaitu hubungan dengan sumber modal:
- Penerimaan pinjaman bank
- Pembayaran cicilan kredit
- Setoran/penarikan modal pemilik
Untuk PBF, arus kas operasional negatif sering kali terjadi karena piutang yang belum tertagih. Inilah mengapa monitoring aging piutang harian jauh lebih penting daripada terus melihat laba rugi bulanan.
4. Laporan Perubahan Ekuitas
Laporan ini menunjukkan perubahan modal selama satu periode. Mulai dari modal awal, ditambah laba bersih, dikurangi dividen atau penarikan modal. Untuk PBF berbentuk PT, ini menjadi dasar perhitungan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) tahunan.
5. Catatan atas Laporan Keuangan (CALK)
CALK adalah penjelasan naratif dan rincian angka yang ada di laporan keuangan. Untuk PBF, CALK yang penting mencakup:
- Kebijakan akuntansi persediaan (metode yang digunakan: FIFO atau rata-rata)
- Rincian aging piutang dan kebijakan penyisihan piutang tak tertagih
- Rincian utang ke prinsipal per tanggal laporan
- Penjelasan aset tetap dan penyusutan
- Komitmen dan kontinjensi (misal: sewa gudang jangka panjang)
Alur Penyusunan Laporan Keuangan PBF Bulanan
Berikut rekomendasi alur praktis yang bisa Anda terapkan pada tim keuangan PBF setiap bulan:
Step 1: Rekap Transaksi Penjualan
Kumpulkan dan urutkan semua faktur penjualan yang diterbitkan selama periode berjalan. Pastikan setiap faktur sudah tercatat dalam sistem, termasuk faktur yang sudah lunas maupun yang masih outstanding.
Step 2: Rekap Pembelian dari Prinsipal
Catat semua faktur pembelian dari prinsipal/produsen, termasuk retur pembelian dan diskon yang diterima. Ini menjadi dasar perhitungan HPP dan utang dagang.
Step 3: Stock Opname
Lakukan penghitungan fisik stok obat untuk mendapatkan nilai persediaan akhir yang akurat. Keluarkan dari sistem PBF Anda obat yang kadaluarsa, rusak, atau diretur. Persediaan akhir yang valid adalah kunci HPP yang akurat.
Step 4: Rekonsiliasi Piutang
Cocokkan saldo piutang di sistem dengan daftar faktur outstanding. Klasifikasikan berdasarkan aging (current, 1–30 hari, 31–60 hari, >60 hari). Tentukan estimasi penyisihan piutang tak tertagih.
Step 5: Rekonsiliasi Bank
Cocokkan mutasi rekening bank dengan catatan penerimaan dan pembayaran di buku besar. Pastikan tidak ada transaksi yang belum dicatat.
Step 6: Hitung HPP & Susun Laba Rugi
Dengan data dari langkah 1–3, hitung HPP menggunakan rumus: HPP = Persediaan Awal + Pembelian Bersih – Persediaan Akhir
Lalu susun laporan laba rugi lengkap dengan beban operasional dan administrasi.
Step 7: Susun Neraca & Arus Kas
Dengan data dari semua langkah sebelumnya, susun neraca per tanggal akhir periode dan laporan arus kas.
Step 8: Review KPI Keuangan
| KPI | Tolak Ukur Sehat |
|---|---|
| Gross Margin | >5-15% (tergantung segmen produk) |
| DSO (Days Sales Outstanding) | ≤ 45 hari |
| Rasio Lancar (Current Ratio) | ≥ 1.5 |
| Perputaran Persediaan | Sesuai lead time pengadaan |
| Bad Debt Ratio | < 2% |
Keterkaitan Laporan Keuangan dengan Kewajiban Pelaporan Regulasi
Laporan keuangan PBF tidak dapat dipisahkan dari kewajiban pelaporan ke regulator:
- e-Report (Kemenkes) : setiap PBF wajib melaporkan kegiatan penerimaan dan penyaluran obat setiap 3 bulan sekali kepada Direktorat Jenderal Kefarmasian. Data volume distribusi di e-Report harus konsisten dengan catatan pembelian dan penjualan di laporan keuangan. Inkonsistensi antara keduanya bisa memicu pertanyaan saat audit.
- e-Was (BPOM) : sistem pelaporan Early Warning untuk obat berisiko tinggi, umumnya dilaporkan setiap bulan. Data distribusi produk tertentu di e-Was harus sinkron dengan faktur penjualan yang tercatat.
- SPT Tahunan PPh Badan : laporan laba rugi dan neraca menjadi dasar pengisian SPT, termasuk perhitungan PPh terutang dan rekonsiliasi fiskal.
Ketidaksesuaian antara laporan keuangan, e-Report, dan e-Was adalah salah satu temuan paling umum saat inspeksi BPOM atau audit pajak. Sistem yang terintegrasi adalah solusi terbaik untuk mencegah ini.
Baca juga: Panduan Lengkap Laporan E-Was dan E-Report untuk PBF Distributor Farmasi
Tantangan Umum Laporan Keuangan PBF dan Solusinya
Masalah 1: Piutang besar tapi arus kas negatif
Solusi: Terapkan SOP penagihan piutang yang ketat dengan jadwal follow-up dan blokir otomatis untuk outlet yang melewati jatuh tempo.
Masalah 2: Stock opname tidak konsisten, HPP tidak akurat
Solusi: Lakukan stock opname minimal sebulan sekali. Gunakan sistem yang secara otomatis memperbarui stok setiap kali ada transaksi masuk/keluar.
Masalah 3: Data penjualan, faktur, dan laporan tidak sinkron
Solusi: Hindari pencatatan manual terpisah. Gunakan software PBF seperti Digikes Supplier yang mengintegrasikan faktur penjualan, penerimaan pembayaran, dan laporan keuangan dalam satu sistem.
Masalah 4: Laporan keuangan dan data e-Report/e-Was tidak konsisten
Solusi: Pastikan sistem PBF yang digunakan mendukung ekspor data untuk pelaporan regulasi secara langsung dari data transaksi yang sama.
Baca juga: SOP dan Panduan Penanganan Piutang PBF
Kelola Laporan Keuangan PBF Lebih Mudah dengan Digikes Supplier
Menyusun laporan keuangan PBF secara manual dengan dokumen terpisah untuk faktur, piutang, stok, dan pembayaran akan membuka banyak celah kesalahan dan memakan waktu yang seharusnya bisa digunakan untuk hal lain.
Digikes Supplier adalah Software dan Aplikasi PBF yang dirancang khusus untuk kebutuhan distribusi farmasi di Indonesia. Dengan Digikes Supplier, seluruh data transaksi mulai dari faktur penjualan, penerimaan pembayaran, hingga monitoring piutang dapat terintegrasi dalam satu platform, sehingga laporan keuangan bisa disusun lebih cepat, akurat, dan minim risiko inkonsistensi data.
(Baca juga : 5 Alasan Digikes Supplier Jadi Aplikasi PBF Terbaik Pilihan Distributor Farmasi)

Siap merapikan laporan keuangan PBF kamu?
Coba Digikes Supplier sekarang! Software & Aplikasi PBF lengkap untuk distribusi farmasi yang lebih efisien dan terkelola.
