Cara Menentukan Harga Jual Obat di Apotek

apt. Nurul Ayesya, S.Farm 1 min read

Harga merupakan variabel penting dalam suatu bisnis, termasuk bisnis apotek. Harga jual mempengaruhi kompetisi dengan kompetitor dan mempengaruhi keuntungan di apotek. Penetapan harga jual apotek dilakukan untuk menyeimbangkan agar harga tidak terlalu tinggi sehingga tidak terjangkau oleh masyarakat, namun tetap harus mampu memberi keuntungan dari pendapatan di apotek.

Struktur harga yang ditetapkan oleh Gabungan Perusahaan Farmasi dan disetujui pemerintah disebut HET (Harga Eceran Tertinggi). HET adalah harga jual tertinggi obat di apotek, toko obat, dan IFRS/klinik. HET dicetak di label obat oleh industri farmasi sampai pada satuan kemasan terkecil. Informasi HET wajib ada pada obat, baik obat bebas, bebas terbatas, dan obat keras.

Menurut Permenkes No 98 tahun 2015, Apotek, toko obat dan IFRS/klinik harus menjual obat dengan harga sama atau lebih rendah dari HET. Namun, bisa menjual dengan harga lebih tinggi jika harga pada label sudah tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Dalam hal ini, jika harga lebih tinggi maka apotek harus memberikan penjelasan kepada masyarakat/pelanggan.

Penetapan Harga Jual Obat dengan Resep

Pelayanan obat dengan resep hanya dapat dilakukan di apotek, meliputi obat keras termasuk narkotika, pikotropika, dan prekursor farmasi baik berbentuk racikan dan non racikan. Pendapatan apotek untuk obat dengan resep memiliki markup yang lebih besar daripada tanpa resep. Besarnya penetapan harga obat dengan resep biasanya dihitung menggunakan persamaan berikut :

HJA = [(HNA + PPN) x indeks] + E + S, keterangan :

HJA: Harga jual apotek, harga yang diberikan apotek kepada pasien
HNA: Harga netto apotek, harga yang diberikan PBF kepada apotek sebelum ditambah PPN
PPN: Pajak pertambahan nilai, sebesar 11%
Indeks: Besarnya markup apotek. Biasanya untuk obat resep sebesar 1,3 namun perhatikan lagi agar tetap di bawah HET
E: Biaya embalase, harga barang tidak termasuk obat seperti plastik pengemas, salinan resep
S: Biaya servis

Penetapan Harga Jual Obat Tanpa Resep

Penjualan obat tanpa resep meliputi obat bebas, obat bebas terbatas, obat wajib apotek (OWA), alat kesehatan, kosmetika, dan obat tradisional. Besarnya penetapan harga obat tanpa resep biasanya dihitung menggunakan persamaan berikut :

HJA = [(HNA + PPN) x indeks] + E, keterangan :

HJA: Harga jual apotek, harga yang diberikan apotek kepada pasien
HNA: Harga netto apotek, harga yang diberikan PBF kepada apotek sebelum ditambah PPN
PPN: Pajak pertambahan nilai, sebesar 11%
Indeks: Besarnya mark up apotek. Biasanya untuk obat tanpa resep sebesar 1,2 namun perhatikan lagi agar tetap di bawah HET
E: Biaya embalase, harga barang tidak termasuk obat seperti plastik pengemas

Pebisnis apotek harus cermat dalam menetapkan harga jual, sebab jika terlalu tinggi akan membuat apotek kurang kompetitif dan membuat pasien/pelanggan enggan berbelanja ke apotek. Namun juga tidak terlalu rendah untuk membuat apotek tetap profit.

Manfaatkan Software Apotek Digital untuk merasakan kemudahan dalam melakukan aktivitas pengelolaan di apotek, termasuk dalam melakukan analisis harga modal yang penting untuk menjaga markup produk di apotek. Dengan fitur Analisis Harga, pebisnis apotek dapat mengetahui jika ada perubahan harga beli/harga modal baik berupa kenaikan ataupun penurunan. Dilengkapi juga rekomendasi perubahan harga yang bertujuan untuk menjaga markup produk. Sehingga pebisnis apotek dapat lebih bijak dalam menentukan harga jual produk. Untuk mempelajari lebih lanjut mengenai apa saja yang perlu ditawarkan dari software pengolah apotek bisa kunjungi disini.

Fitur Analisis Harga Produk di Software Apotek Digital

Apotek Digital - Software Apotek Handal, Lengkap, dan Mudah. Yuk daftar di sini Gratis!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *