Pernahkah Anda melewati jalan yang biasanya dihiasi papan ‘apotek’ namun kini menyisakan ruko kosong dengan tulisan ‘Disewakan’? Fenomena tutupnya sejumlah gerai apotek di Indonesia belakangan ini cukup menyita perhatian. Banyak yang menduga ini hanyalah imbas dari daya beli masyarakat yang lesu. Namun jika membedah lebih dalam, masalahnya jauh lebih kompleks. Di balik pintu apotek, sedang terjadi ‘perang sunyi’ antara model bisnis tradisional yang melawan arus disrupsi teknologi, biaya operasional yang melonjak, hingga perubahan cara masyarakat membeli obat dan menebus resep. Lalu apa saja alasan mengapa banyak apotek tutup? Apakah ini tanda penurunan daya beli, atau ada sebab lainnnya? Simak beberapa ulasan faktor penyebabnya di artikel berikut!
Daftar Isi
- 1 Alasan Banyaknya Gerai Apotek Tutup
- 2 Strategi Bertahan : Bagaimana Apotek Bisa Bertahan dan Berkembang
Alasan Banyaknya Gerai Apotek Tutup
Apotek yang dulu menjadi tujuan masyarakat saat demam atau sekedar menebus obat rutin, kini justru tutup. Jika diamati dari cerita rekan Apoteker dan berbagai cerita apotek tutup di media sosial, fenomena ini bukan sekedar kebetulan di satu-dua wilayah. Muncul asumsi sederhana bahwa ini terjadi karena sepi pembeli atau menurunnya daya beli masyarakat. Namun, jika kita lihat antusiasme masyarakat tetap tinggi dalam membelanjakan uang untuk kebutuhan obat, produk kesehatan dan suplemen. Alasan hanya karena ‘sepi pembeli’ mungkin terasa kurang akurat.
(Baca juga : Panduan dan Pilar untuk Evaluasi Pertumbuhan Bisnis Apotek)
Perang Harga Melawan HealthTech (Disrupsi HealthTech)
Penyebab utama runtuhnya dominasi apotek konvensional bukanlah karena hilangnya orang sakit. Melainkan karena berpindahnya ‘apotek’ ke dalam genggaman tangan. Dimana munculnya PSEF (Penyedia Sistem Elektronik Farmasi) dan raksasa healthtech di Indonesia seperti Hal*do*, Al*dok*er, bahkan fitur farmasi di marketplace besar telah menciptakan standar baru dalam belanja obat dan produk kesehatan. Di era ini, masyarakat dapat dengan mudah membeli obat dari rumah saja. Mereka juga menjadi konsumen pemburu harga yang sangat teliti. Hanya dari layar, mereka bisa membandingkan harga produk di beberapa platform secara real time, hingga membeli obat dan produk kesehatan.
Efek Marketplace dan Aplikasi PSEF Farmasi
Gerai apotek fisik kini seperti terjepit dengan perang harga yang sulit untuk dimenangkan. Platform seperti marketplace dan PSEF bisa menawarkan diskon besar-besaran, cashback, hingga gratis ongkir yang disubsidi oleh modal ventura (bakar uang). Namun di sisi lain, pemilik apotek konvensional harus memutar otak untuk set harga jual yang seringkali lebih tinggi karena harus menutup biaya operasional dan mendapat profit.
Pergeseran Budaya Konsumsi Obat Masyarakat
Selain masalah harga, ada pergeseran psikologis. Konsumen modern, terutama generasi Z dan milineal jauh lebih menjaga privasi dan mementingkan kepraktisan. Konsultasi online dan membeli obat dari aplikasi memberikan rasa nyaman dan praktis karena tidak harus mengantri di kasir apotek. Ini juga dirasa lebih aman dan nyaman untuk berkonsultasi mengenai keluhan medis yang bersifat sensitif.
(Baca juga : Cara Apoteker Mencegah Pembelian Obat Ilegal Secara Online)
Beban Biaya Operasional yang Semakin Besar
Dalam menjalankan bisnis apotek ada biaya operasional yang rutin harus dibayar, seperti gaji karyawan, sewa ruko/bangunan, biaya listrik, air, ATK (alat tulis), investasi sistem apotek, dan lain-lain.
Kenaikan Sewa Lahan atau Sewa Bangunan di Lokasi Strategis
Kenaikan harga sewa ruko atau bangunan terutama di lokasi strategis seringkali tidak sebanding dengan peningkatan omzet apotek, terutama jika daya beli masyarakat sedang fluktuatif.
(Baca juga : Tips Menentukan Lokasi yang Strategis untuk Pendirian Apotek)
Dilema Gaji Tenaga Profesional
Untuk menjalankan bisnis apotek setidaknya Anda harus mempunyai 1 Apoteker Penanggung Jawab dan 1 Asisten Apoteker. Belum lagi jika apotek menjalankan 2 dan 3 shift, tentu karyawan yang dibutuhkan lebih banyak. Ditambah lagi dengan tengah tuntutan UMK (upah minimum kota) dan standar gaji profesi apoteker.
(Baca juga : Struktur Organisasi Apotek dan Pembagian Peran SDM)
Dominasi Apotek Jaringan Ritel Besar
Jaringan ritel besar (chain pharmacy) seperti apotek jaringan besar memiliki kelebihan yang sulit ditandingi apotek mandiri konvensional. Apotek jaringan ritel besar memiiki bargaining power cukup kuat ke PBF. Dengan volume pembelian yang besar langsung ke PBF pusat, apotek jaringan bisa mendapatkan harga beli lebih murah atau diskon besar. Hal ini memungkinkan mereka menjual obat dan produk kesehatan dengan harga eceran yang terkadang di bawah harga jual apotek mandiri konvensional.
(Baca juga : Tips Memilih Distributor Obat PBF yang Tepat di Apotek)
Selain poin perang harga, dominasi ini juga terlihat dari standardisasi layanan, kelengkapan stok, dan branding yang kuat. Apotek jaringan besar biasanya memiliki modal besar untuk berinvestasi pada lokasi yang strategis, desain interior yang modern, dan manajemen stok berbasis digital yang terintegrasi. Bagi masyarakat, branding yang kuat akan mempengaruhi kesan pertama. Belum lagi tawaran kepastian & kelengkapan stok, dan kemudahan akses. Akibatnya apotek mandiri yang masih konvensional seringkali kehilangan basis pelanggan karena kalah bersaing secara visual, teknologi dan harga.
Jeratan Regulasi dan Peraturan Baru Semakin Ketat
Selain karena tekanan pasar, banyak apotek tutup juga karena jeratan regulasi dan persyaratan perizinan yang semakin ketat. Transformasi perizinan usaha berbasis risiko, dimana apotek termasuk usaha dengan risiko menengah tinggi. Semakin ketatnya peraturan dan standar di apotek yang membuat pebisnis apotek perlu investasi infrastruktur yang lebih besar untuk memenuhi standar perizinan terbaru. Ditambah lagi persyaratan mengenai standardisasi bangunan dan fasilitas penunjang memerlukan investasi modal yang tidak sedikit.
(Baca juga : Peraturan Hukum yang Harus Diketahui di Bisnis Apotek)
Klasifikasi Usaha OSS RBA Menengah Tinggi
Berdasarkan sistem OSS-RBA (Risk Based Aproach), usaha apotek termasuk usaha dengan risiko menengah tinggi. Dampaknya, selain harus memiliki NIB, apotek juga perlu Sertifikat Standar yang diverifikasi oleh Dinkes setempat. Jika verifikasi lapangan ada yang tidak sesuai, maka izin apotek sulit diperpanjang.
Kewajiban Laporan Rutin (SIMONA dan SIPNAP)
Regulasi terbaru mewajibkan apotek untuk melaporkan pelayanan kefarmasian melalui aplikasi SIMONA (Sistem Informasi Monitoring dan Pembinaan Fasilitas Pelayanan Kefarmasian). Dan pelaporan obat narkotika psikotropika melalui aplikasi SIPNAP (Sistem Pelaporan Narkotika dan Psikotropika) secara disiplin. Jika apotek lalai dalam pelaporan, maka akan berpengaruh pada perpanjangan izin apotek.
(Baca juga : Panduan SIPNAP 2025 : Cara Apotek Menggunakannya dengan Mudah)
Biaya Kepatuhan (Compliance Cost) yang Tinggi
Untuk memastikan semua dokumen teknis (seperti SPPL untuk lingkungan, denah geotagging, dan SLF untuk kelayakan fungsi bangunan) memenuhi syarat, banyak apotek menggunakan jasa konsultan. Dampaknya biaya pengurusan perpanjangan izin menjadi mahal. Untuk apotek kecil yang omzet menipis, sulit dan mahalnya kepatuhan untuk regulasi membuat mereka memilih tutup apotek.
Strategi Bertahan : Bagaimana Apotek Bisa Bertahan dan Berkembang
Fokus kepada Ketepatan Produk & Stok, Bukan Banyaknya SKU
Menyikapi fenomena apotek tutup, pebisnis apotek dituntut beralih dari pengadaan produk berdasarkan feeling ke pengadaan cermat berdasarkan data dan kebutuhan. Alih-alih menimbun banyaknya item atau SKU (stock keeping unit), lebih baik fokus pada ketepatan produk dan stok sesuai dengan kebutuhan. Terlalu banyak SKU akan berisiko pada stok menumpuk, menjadi stok mati, bahkan kadaluarsa di penyimpanan. Oleh karena itu, apotek harus punya sistem yang bisa mengontrol, manajemen, dan menganalisis setiap pergerakan stok. Hingga nanti tahu produk apa saja yang pareto, fast moving, dan menyumbang banyak omzet ke apotek.
(Baca juga : Strategi Jitu Mengelola Obat Fast Moving dan Slow Moving di Apotek)
Meningkatkan Kualitas Pelayanan
Apotek bukan hanya sebagai tempat berjualan obat, tetapi juga tempat dilakukannya pelayanan kefarmasian oleh Apoteker. Meningkatkan kualitas pelayanan bisa menjadi nilai tambah bagi apotek Anda. Pelanggan tidak hanya memperhatikan harga tetapi layanan yang diterimanya. Apotek bisa mengoptimalkan layanan seperti PIO (layanan informasi obat), konseling, swamedikasi, telefarmasi, home pharmacy care, free konsultasi dengan apoteker, dan lain-lain. Pelayanan yang berkesan akan membuat pelanggan kembali lagi ke apotek Anda.
(Baca juga : Cara Jitu untuk Meningkatkan Kepuasan Pelanggan di Apotek)
Diversifikasi Produk Tidak Hanya Obat
Apotek tidak lagi bisa hanya mengandalkan sumber pendapatan dari berjualan obat. Diservifikasi produk menjadi penting. Menyediakan alat kesehatan, layanan cek kesehatan, personal care, suplemen, bisa menjadi sumber omzet yang menguntungkan karena marginnya juga bisa diatur lebih fleksibel selain obat yang terikat aturan HET.
(Baca juga : 7 Sumber Omzet Apotek Selain dari Berjualan Obat)
Menjaga Hubungan Baik dengan Pelanggan
Agar apotek bisa terus bertumbuh, maka menjaga hubungan baik dengan pelanggan adalah kuncinya. Pelanggan yang loyal akan cenderung terus berbelanja, meningkatkan jumlah pembeliannya, bahkan merekomendasikan apotek Anda ke keluarga/koleganya. Alhasil transaksi meningkat, jumlah penjualan naik, dan omzet meningkat. Anda bisa memanfaatkan program membership dan platform WhatsApp untuk membentuk komunitas dan membuat pelanggan semakin loyal ke apotek.
(Baca juga : Kisah Sukses Apotek : Strategi Meningkatkan Pelanggan Loyal)
Memanfaatkan Berbagai Kanal Jualan Online
Di era digital seperti saat ini, dimana masyarakat lebih menyukai kepraktisan, rasanya tidak berlebihan jika saat ini apotek harus bisa memanfaatkan berbagai kanal penjualan online. Mulai dari mengaktifkan website apotek, whatsapp, masuk ke PSEF, atau membuka kanal di marketplace. Ini dapat menjadi opsi kanal sehingga apotek Anda bisa melayani lebih banyak pelanggan tidak terbatas tempat.
(Baca juga : Panduan Apotek Jualan Online : Peraturan dan Cara Mudahnya)
Digitalisasi : Menggunakan Software Apotek
Dengan memadukan pelayanan prima di toko offline dan kemudahan akses melalui kanal online, apotek mandiri bisa lebih bersaing dan terhindar dari risiko tutup. Semua itu sulit dilakukan tanpa memanfaatkan software apotek yang handal seperti Apotek Digital. Dengan Apotek Digital, kelola apotek (mulai dari stok, laporan, keuangan, karyawan, hingga menjaga hubungan dengan pelanggan apotek) menjadi lebih mudah. Apotek bisa dipantau dari mana saja, pergerakan stok terpantau (Anda bisa tahu dengan mudah stok mau kadaluarsa, dan produk apa saja yang fast moving-slow moving, lengkap dengan rekomendasi pembeliannya agar sesuai kebutuhan). Anda juga bisa mengatur hak akses karyawan secara custom, mendapatkan laporan keuangan yang akurat dan realtime, serta mengatur berbagai program promo dan follow up pelanggan secara otomatis. Kini Apotek Anda bisa lebih bersaing dan lebih tidak khawatir dengan ancaman apotek tutup dengan manajemen yang handal. Tertarik untuk mencoba free trial-nya? Coba gratis disini!
