7 SOP Pelayanan Farmasi Klinis Apotek (Disertai Contoh Template SOP)

Apt. Nadia Windyaningrum 6 min read

SOP pelayanan farmasi di apotek

SOP (standar operasional prosedur) menjadi komponen wajib untuk menjamin mutu pelayanan kefarmasian dan perlindungan bagi pasien serta apotek sesuai dengan Permenkes No 73 Tahun 2016. Contoh SOP pelayanan farmasi klinis apotek yang sesuai regulasi ternyata tidak mudah ditemukan. Banyak apoteker sudah menjalankan konseling, PIO, dan pemantauan terapi obat setiap hari dengan baik. Namun, tidak sedikit yang belum punya dokumentasi SOP tertulis yang mengikat prosedur tersebut.

Akibatnya, bagian pelayanan farmasi klinis sering menjadi temuan utama saat inspeksi Dinas Kesehatan atau persiapan akreditasi karena tidak adanya dokumentasi.

Artikel ini merangkum ketujuh SOP yang wajib ada berdasarkan Permenkes No. 73 Tahun 2016 . Setiap SOP disertai prosedur inti dan poin dokumentasi yang harus ada. Di akhir artikel, Anda juga bisa mengunduh blanko template Excel secara gratis.

Apa Saja SOP Pelayanan Farmasi Klinis yang Wajib Ada di Apotek?

Berdasarkan Pasal 21–27 Permenkes No. 73 Tahun 2016, setiap apotek wajib memiliki tujuh SOP pelayanan farmasi klinis berikut:

  1. SOP Pengkajian dan Pelayanan Resep (Pasal 21)
  2. SOP Dispensing (Pasal 22)
  3. SOP Pelayanan Informasi Obat / PIO (Pasal 23)
  4. SOP Konseling Obat (Pasal 24)
  5. SOP Home Pharmacy Care (Pasal 25)
  6. SOP Pemantauan Terapi Obat / PTO (Pasal 26)
  7. SOP Monitoring Efek Samping Obat / MESO (Pasal 27)

Seluruhnya bersifat wajib. Berlaku untuk semua apotek, tanpa pengecualian berdasarkan skala usaha. Masing-masing mengatur tujuan, prosedur, penanggung jawab, dan dokumen yang harus dihasilkan.

(Baca Juga: SOP Apotek : Apa Manfaatnya dan Bagaimana Cara Membuatnya?)

Apa Itu Pelayanan Farmasi Klinis di Apotek?

Pelayanan farmasi klinis adalah bagian dari standar pelayanan kefarmasian yang berfokus pada interaksi langsung antara Apoteker dan pasien. Tujuannya adalah memastikan penggunaan obat yang aman, efektif, dan rasional.

Berbeda dari pengelolaan sediaan farmasi yang bersifat logistik, pelayanan farmasi klinis bersifat personal dan berorientasi pada pasien. Apoteker berperan aktif di sini, dengan memantau terapi, mengedukasi pasien, dan melaporkan setiap efek samping yang ditemukan.

Contoh SOP Pelayanan Farmasi Klinis di Apotek (Lengkap)

Berikut contoh prosedur dan poin dokumentasi untuk masing-masing SOP.

1. SOP Pengkajian dan Pelayanan Resep (Pasal 21)

Setiap resep yang masuk harus melewati tiga tahap kajian sebelum Apoteker menyiapkan obat, yaitu :

  1. Kajian administratif : Apoteker memeriksa kelengkapan identitas dokter dan pasien
  2. Kajian farmasetik yang mencakup kesesuaian bentuk sediaan, kekuatan, dan stabilitas obat
  3. Kajian klinis yaitu Apoteker menilai ketepatan indikasi, dosis, dan kemungkinan interaksi pada resep pasien

Jika Apoteker menemukan ketidaksesuaian, ia wajib menghubungi dokter penulis resep sebelum melanjutkan. Proses ini tidak boleh dilewati, meskipun kondisi apotek sedang ramai. Ini dilakukan untuk mengoreksi jika ada kesalahan atau error dan demi keselamatan pasien.

Dokumen wajib: formulir pengkajian resep per transaksi. Memuat hasil kajian administratif, farmasetik, dan klinis.

(Baca Juga: Panduan Alur Pelayanan Resep di Apotek)

2. SOP Dispensing (Pasal 22)

Dispensing mencakup seluruh tahapan mulai dari menyiapkan obat, membuat etiket, melakukan verifikasi akhir, hingga menyerahkan obat ke pasien disertai informasi cara penggunaan. Selain itu, untuk sediaan racikan, SOP harus mencakup prosedur teknis peracikan secara terpisah: penimbangan, penggerusan, pencampuran, dan pengemasan.

Poin yang sering absen dari SOP dispensing apotek adalah prosedur double-check untuk obat HIGH ALERT. SOP perlu menegaskan siapa yang melakukan, kapan, dan bagaimana cara mencatatnya.

Dokumen wajib: catatan dispensing berisi nama pasien, nama obat, nomor batch, tanggal kedaluwarsa, dan tanda tangan petugas penyerah.

(Baca Juga: Obat High Alert di Apotek: Pengertian, Contoh, dan Cara Aman Menyimpannya)

3. SOP Pelayanan Informasi Obat / PIO (Pasal 23)

PIO (pelayanan informasi obat) adalah kegiatan pemberian informasi obat kepada pasien, keluarga pasien, atau tenaga kesehatan lain. Apoteker dapat menerima pertanyaan secara langsung, melalui telepon, maupun pesan singkat.

SOP PIO mengatur cara Apoteker menerima dan mencatat pertanyaan, referensi apa yang digunakan untuk menjawab, dan berapa lama batas waktu respons. Namun, banyak SOP PIO yang tidak mencakup prosedur untuk pertanyaan yang tidak bisa langsung dijawab padahal ini situasi yang cukup sering terjadi dalam praktik.

Dokumen wajib: formulir PIO yang memuat identitas penanya, pertanyaan, sumber referensi yang digunakan, jawaban yang diberikan, dan waktu respons.

(Baca Juga: Optimalkan Pelayanan Informasi Obat (PIO) di Apotek: Panduan Lengkap & Manfaatnya)

4. SOP Konseling Obat (Pasal 24)

Berbeda dengan PIO, konseling merupakan proses komunikasi dua arah yang lebih mendalam, dilakukan di ruang terpisah untuk menjaga privasi pasien.

Apotek memprioritaskan konseling untuk beberapa kelompok: pasien dengan lima obat atau lebih, penyakit kronis, lansia, anak-anak, dan pengguna obat dengan indeks terapi sempit. SOP konseling yang baik mencantumkan metode yang digunakan, salah satunya Three Prime Questions (3PQ) — tiga pertanyaan pembuka yang membantu Apoteker mengukur pemahaman awal pasien sebelum memberikan informasi.

Sebagai langkah akhir, Apoteker melakukan teach-back: meminta pasien mengulang cara penggunaan obat untuk memastikan pemahaman sudah tepat.

Dokumen wajib: formulir konseling yang memuat nama pasien, obat yang dikonseling, informasi yang diberikan, metode yang digunakan, dan tingkat pemahaman pasien.

(Baca Juga: Konseling Apoteker untuk Tingkatkan Efektivitas Pengobatan)

5. SOP Home Pharmacy Care (Pasal 25)

Home pharmacy care adalah kunjungan Apoteker ke rumah pasien. Apotek memprioritaskan layanan ini untuk pasien geriatri dengan banyak obat, pasien penyakit kronis yang sulit datang ke apotek, dan pasien pascaperawatan di rumah sakit.

SOP ini mengatur tiga fase secara berurutan: persiapan sebelum kunjungan, pelaksanaan saat kunjungan, dan tindak lanjut setelah kunjungan. Satu hal yang perlu eksplisit ada dalam SOP ini adalah batasan kewenangan Apoteker saat berkunjung. Apoteker tidak boleh mengubah terapi secara mandiri, semua rekomendasi harus dikomunikasikan ke dokter yang merawat dan dicatat secara tertulis.

Dokumen wajib: formulir home care yang mencatat temuan kunjungan, intervensi yang dilakukan, dan rekomendasi ke dokter.

6. SOP Pemantauan Terapi Obat / PTO (Pasal 26)

PTO adalah kegiatan aktif Apoteker untuk memastikan terapi obat mencapai hasil yang diharapkan. Oleh karena itu, SOP PTO harus mengatur cara mengidentifikasi pasien yang perlu dipantau, cara mengumpulkan data klinis yang relevan, dan cara mengkomunikasikan rekomendasi ke dokter.

Apoteker mendokumentasikan hasil pemantauan menggunakan format SOAP (Subjective, Objective, Assessment, Plan). Format ini memudahkan komunikasi antar tenaga kesehatan, terutama saat Apoteker menyampaikan usulan perubahan terapi.

Pasien yang perlu mendapat PTO secara rutin antara lain: pengguna warfarin, digoksin, teofilin, atau fenitoin yaitu golongan obat-obatan dengan indeks terapi sempit dan risiko toksisitas tinggi.

Dokumen wajib: catatan PTO format SOAP dan dokumentasi respons dokter terhadap rekomendasi Apoteker.

(Baca Juga: Pemantauan Terapi Obat (PTO) Oleh Apoteker di Apotek)

7. SOP Monitoring Efek Samping Obat / MESO (Pasal 27)

MESO adalah kewajiban pelaporan. Setiap efek samping obat yang Apoteker temukan harus dilaporkan ke BPOM melalui sistem e-MESO. Penting untuk diketahui: untuk kasus ESO serius, batas waktu pelaporan adalah tiga hari kerja setelah kasus teridentifikasi, bukan tujuh hari.

SOP MESO mengatur cara Apoteker mendeteksi ESO secara aktif yaitu dengan bertanya kepada pasien saat pelayanan, bukan hanya menunggu laporan. Selain itu, SOP juga mengatur cara menilai hubungan kausalitas menggunakan Skala Naranjo, dan urutan prioritas tindakan: keselamatan pasien dahulu, dokumentasi kemudian.

Dokumen wajib: formulir MESO apotek dan bukti laporan e-MESO yang sudah terkirim.

Download Blanko Template Excel Gratis dari Apotek Digital

Ketujuh SOP di atas sudah tersedia dalam format blanko Excel yang bisa langsung digunakan. Template ini mencakup:

  • Format SOP standar dengan nomor dokumen, kolom revisi, dan lembar pengesahan
  • Prosedur lengkap per SOP mengacu Permenkes No. 73 Tahun 2016 dengan referensi pasal yang tepat
  • Formulir dokumentasi untuk setiap jenis layanan; pengkajian resep, dispensing, konseling, PIO, home care, PTO, dan MESO
  • Panduan teknis built-in seperti Three Prime Questions untuk konseling dan Skala Naranjo untuk MESO

Download Blanko SOP Pelayanan Farmasi Klinis Apotek (Excel) disini:

Tips Mengimplementasikan SOP Pelayanan Farmasi Klinis

Punya SOP tertulis adalah langkah pertama, namun SOP yang tidak dijalankan tidaklah ada artinya. Beberapa hal yang perlu diperhatikan saat implementasi:

Mulai dari yang paling sering dipakai. Prioritaskan SOP Kajian Resep dan Dispensing terlebih dahulu, karena keduanya berlaku di setiap transaksi resep. Setelah keduanya berjalan, implementasikan SOP konseling dan PIO secara bertahap.

Sosialisasikan sebelum memberlakukan. Semua staf perlu membaca dan memahami SOP sebelum berlaku. Untuk SOP konseling khususnya, lakukan simulasi singkat agar Apoteker pendamping dan Tenaga Teknis Kefarmasian terbiasa dengan alur dan formulirnya.

Jadwalkan review tahunan. Regulasi bisa berubah dan staf berganti. SOP yang tidak pernah diperbarui akan cepat tidak relevan. Catat setiap perubahan di kolom revisi pada dokumen SOP.

Dokumentasi adalah bukti. Banyak apoteker merasa dokumentasi membuang waktu. Gunakan perspektif yang lebih berguna, yaitu dokumentasi adalah bukti bahwa pelayanan sudah berjalan sesuai standar yang sangat berguna saat inspeksi Dinkes, akreditasi, maupun jika ada klaim atau komplain dari pasien.

Kelola Pelayanan Apotek Lebih Efisien dengan Apotek Digital

SOP pelayanan farmasi klinis yang baik membutuhkan dokumentasi yang konsisten di setiap transaksi. Di apotek dengan volume resep tinggi, ini mudah terlewat jika masih dikerjakan secara manual.

Apotek Digital dirancang untuk membantu apotek menjalankan standar ini lebih efisien. Memiliki fitur khusus yaitu Pelayanan Apotek seperti pencatatan resep dan dispensing yang terintegrasi langsung dengan stok, serta laporan pelayanan yang bisa dicetak kapan saja untuk keperluan evaluasi mutu atau persiapan akreditasi.

SOP Pelayanan Farmasi Klinis Aplikasi Apotek Digital
Fitur Pelayanan Farmasi Klinis di Aplikasi Apotek Digital

Dengan Fitur ini, Apoteker di Apotek dapat melakukan pelayanan kefarmasian secara konsisten dengan pencatatan dokumen yang lebih rapi dan terstruktur sesuai regulasi yang berlaku. Pengisian laporan SIMONA akan jauh lebih mudah dengan fitur ini. Coba gratis aplikasinya di sini!

(Baca juga : Panduan SIMONA Apotek: Cara Daftar, Login, dan Laporan Bulanan)

FAQ: SOP Pelayanan Farmasi Klinis di Apotek

Apa perbedaan SOP pelayanan farmasi klinis dan SOP pengelolaan sediaan farmasi?

SOP pelayanan farmasi klinis mengatur semua interaksi langsung antara Apoteker dan pasien diantaranya kajian resep, dispensing, konseling, PIO, home care, PTO, dan MESO. SOP pengelolaan sediaan farmasi mengatur pengelolaan logistik obat mulai dari perencanaan, pengadaan, penerimaan, penyimpanan, pengendalian, hingga pencatatan dan pelaporan. Keduanya wajib ada dan terpisah berdasarkan Permenkes No. 73 Tahun 2016.

Apakah SOP harus menggunakan format tertentu?

Tidak ada format yang ditetapkan secara kaku, tapi secara umum SOP apotek memuat nomor dokumen, tanggal berlaku, nomor revisi, pengertian, tujuan, kebijakan/dasar hukum, prosedur langkah demi langkah, unit terkait, dokumen terkait, dan lembar pengesahan yang ditandatangani APA.

Apakah SOP pelayanan farmasi klinis berlaku untuk apotek kecil sekalipun?

Ya. Permenkes No. 73 Tahun 2016 berlaku untuk semua apotek tanpa pengecualian berdasarkan skala. Yang bisa disesuaikan adalah tingkat detailnya; apotek dengan transaksi sedikit bisa memiliki SOP yang lebih ringkas dibanding apotek besar, tapi struktur dan substansinya harus tetap mengacu pasal yang sama.

Seberapa sering SOP harus diperbarui?

Minimal satu kali per tahun, atau setiap kali ada perubahan regulasi yang berdampak pada prosedur (misalnya terbitnya Permenkes atau PerBPOM baru). Setiap pembaruan harus dicatat dengan nomor revisi baru dan tanggal berlaku yang diperbarui.

Apa yang dimaksud dengan Three Prime Questions dalam SOP konseling apotek?

Three Prime Questions (3PQ) adalah metode konseling yang menggunakan tiga pertanyaan terbuka: apa yang dokter katakan tentang obat ini, bagaimana dokter menjelaskan cara pemakaiannya, dan apa efek yang diharapkan dari pengobatan ini. Metode ini membantu Apoteker menilai pemahaman awal pasien sebelum memberikan informasi lebih lanjut.

Referensi

  • Permenkes 73/2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek
  • PP 51/2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian
  • UU 17/2023 tentang Kesehatan
  • Petunjuk Teknis Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek, Kemenkes 2019 — 92 halaman, ISBN 978-602-416-837-7, tersedia di repository resmi Kemenkes
  • Pedoman Praktik Apoteker Indonesia, PP IAI 2013
  • Naranjo CA, Busto U, Sellers EM, et al. (1981). A method for estimating the probability of adverse drug reactions. Clinical Pharmacology & Therapeutics, 30(2): 239–245. DOI: 10.1038/clpt.1981.154
  • e-MESO BPOM (emeso.pom.go.id)
  • SIPNAP Kemenkes

Apotek Digital - Software Apotek Handal, Lengkap, dan Mudah. Yuk daftar di sini Gratis!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *