Studi Kelayakan (Feasibility Study) Bisnis Apotek: Panduan untuk Calon Pengusaha Apotek

apt. Nurul Ayesya, S.Farm 7 min read

studi kelayakan bisnis apotek

Memulai membangun bisnis di sektor kesehatan, khususnya apotek, bisa menjadi langkah investasi yang menjanjikan. Banyak pebisnis, terutama lulusan farmasi, berkeinginan untuk membangun bisnis apotek. Namun, karena regulasi pendirian apotek yang sangat ketat dan persaingannya yang dinamis, Anda tidak bisa membangun bisnis apotek hanya dengan modal nekat. Butuh perencanaan dan analisis yang matang. Disinilah pentingnya melakukan studi kelayakan (feasibility study) sebelum memulai bisnis apotek.

Artikel ini akan membahas apa itu studi kelayakan bisnis apotek, apa pentingnya, dan apa yang dianalisis dalam menyusun studi kelayakan bisnis. Panduan ini penting untuk para calon pebisnis apotek dan Apoteker untuk mempersiapkan bisnis apotek yang layak dan berkelanjutan serta meyakinkan investor.

Apa Itu Studi Kelayakan Bisnis Apotek?

Studi kelayakan (feasibility study) bisnis apotek adalah proses analisis secara menyeluruh yang dilakukan sebelum mendirikan atau mengembangkan bisnis apotek, untuk menilai apakah bisnis tersebut layak dijalankan secara finansial, hukum, pasar, dan operasional. Secara sederhana, studi ini akan memberikan gambaran apakah pendirian apotek layak atau tidak dilakukan, atau malah berisiko tinggi mengalami kerugian. Studi kelayakan umum dilakukan sebelum membangun suatu bisnis, termasuk di usaha apotek, yang memiliki kriteria regulasi yang ketat, modal yang tidak sedikit, dan perlu persiapan matang.

(Baca juga : Panduan Lengkap Alur Perizinan Apotek Terbaru Melalui OSS RBA)

Mengapa Studi Kelayakan Bisnis Apotek Penting Dilakukan?

Studi kelayakan bisnis apotek penting dilakukan karena menjadi pondasi penting dalam menentukan apakah pendirian apotek layak atau tidak. Ditambah lagi pendirian apotek yang memiliki syarat & regulasi ketat, membutuhkan modal tidak sedikit, serta persaingan pasar yang semakin kompetitif. Tanpa studi kelayakan yang matang, maka risiko kegagalan bisnis akan menjadi lebih tinggi. Tidak hanya untuk diri sendiri (jika Anda sebagai PSA) tetapi juga penting untuk meyakinkan investor atau rekan (jika Anda ingin mengandalkan modal investor). Beberapa alasan mengapa calon pebisnis apotek perlu melakukan studi kelayakan antara lain :

  • Meminimalkan risiko hukum dan operasional
  • Memahami potensi pasar dan persaingan secara objektif
  • Menghindari kerugian finansial akibat perencanaan pendirian apotek yang tidak matang
  • Mengenal kekuatan, kelemahan, kesempatan, dan ancaman dalam pendirian apotej
  • Menjadi acuan dalam pengambilan keputusan berbasis data
  • Memenuhi syarat pengajuan kredit atau investasi dari pihak ketiga (meyakinkan pemodal/investor)

(Baca juga : Update 2026: Syarat Pendirian Apotek Sesuai Permenkes & OSS RBA)

Yang Dilakukan di Studi Kelayakan Bisnis Apotek : Analisis Pasar dan Potensi Bisnis Apotek

Dalam melakukan studi kelayakan bisnis apotek, ada beberapa analisis yang dilakukan untuk menilai layak/tidak apotek didirikan.

Analisis Pasar (Market Feasibility)

Secara gambaran umum, industri farmasi di Indonesia adalah salah satu yang terbesar di Asia Tenggara. Permintaan terhadap obat dan sediaan farmasi meningkat seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk, meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan, dan perluasan cakupan jaminan kesehatan nasional.

Pertumbuhan jumlah apotek semakin meningkat setiap tahunnya. Kementerian Kesehatan mencatat ada peningkatan jumlah apotek setiap tahunnya selama satu dekade terakhir. Ada 28.233 apotek pada tahun 2018, meningkat menjadi 30.199 apotek pada tahun 2021, dan 32.110 apotek pada tahun 2025 (dataindonesia.id dan Kemenkes). Jumlah ini diperkirakan akan terus naik melihat potensi apotek sebagai bisnis retail yang cukup menjanjikan.

Analisis pada aspek pasar adalah pondasi utama. Anda harus memastikan bahwa ada kebutuhan nyata dari masyarakat di sekitar lokasi yang dibidik. Ada beberapa yang dilakukan, diantaranya :

Segmentasi dan Target Pasar

Anda harus tahu berapa porsi pasar yang bisa diambil dan siapa target pasarnya. Siapa target utama Anda, bagaimana demografi penduduknya, apakah area termasuk padat penduduk, area dekat klinik/puskesmas, atau perkantoran. Demografi dan kepadatan penduduk akan mempengaruhi bagaimana pasar apotek Anda.

  • Demografi penduduk : analisis siapa yang tinggal di sekitar lokasi apotek (misal radius 1-3 km). Apakah mayoritas keluarga muda dengan balita, apakah mayoritas lansia, dan lain-lain
  • Kepadatan penduduk : bagaimana kepadatan penduduk di area tersebut. Area dengan kawasan penduduk bermukim yang padat biasanya lebih diminati, daripada area yang ramai sesaat seperti kawasan perkantoran

(Baca juga : Tips Membuat Perencanaan Persediaan untuk Apotek Baru)

Analisis Kompetitor

Lakukan pemetaan kompetitor (misal dalam radius 1km) di rencana lokasi apotek Anda. Anda harus tahu siapa saja ‘pemain’ yang sudah ada di area tersebut. Setidaknya ada 2 jenis kompetitor apotek :

  • Kompetitor langsung (direct) : apotek lainnya (baik apotek jaringan dan mandiri)
  • Kompetitor tidak langsung : seperti toko obat, minimarket, supermarket, dan warung yang juga menjual obat bebas/bebas terbatas

Dalam melakukan analisis kompetitor, Anda bisa melakukan :

  1. Mystery shopping : Mendatangi kompetitor terdekat. Amati kelengkapan obatnya, keramahan pelayanannya, adakah tempat parkir, dan seberapa cepat antreannya. Jadikan insight
  2. Mencari celah (gap) : Setelah mengamati, jadikan kelemahan mereka sebagai kekuatan utama apotek Anda. Misal jika kompetitor terdekat sering kehabisan stok obat resep tertentu atau tidak melayani pesan-antar, Anda bisa menjadikan ini sebagai kekuatan

Strategi Pricing dan Produk

Agar anggaran pendirian apotek lebih efisien, Anda bisa mempersempit fokus produk :

  • Segmentation : Membagi pasar berdasarkan kebutuhan. Misalnya: Kelompok pasien kronis (butuh obat rutin), kelompok ibu rumah tangga (butuh suplemen & produk bayi), atau kelompok anak muda (butuh skincare dan produk diet).
  • Targeting : Memilih kelompok mana yang paling menguntungkan dan belum terlayani dengan baik di lokasi tersebut.
  • Positioning (citra apotek) : Bagaimana Anda ingin dikenal oleh masyarakat?
    Contoh: “Apotek Sehat Utama: Paling Lengkap Obat Resepnya, Paling Ramah Apotekernya.” atau “Apotek Murah Jaya: Solusi Obat Generik Harga Grosir.”

(Baca juga : 3 Strategi Jitu Apotek Sukses : Cara Meningkatkan Omzet Tanpa Perang Harga)

Analisis Lokasi

Lokasi sering menjadi faktor penentu keberhasilan dan keberlangsungan apotek. Oleh karena itu analisis lokasi di dalam studi kelayanan apotek menjadi penting. Salah dalam pemilihan lokasi, maka akan sulit untuk diperbaiki dan berdampak langsung pada omzet jangka panjang.

Anda bisa melakukan pengamatan dan analisis untuk menentukan suatu lokasi ideal atau tidak didirikan bisnis apotek. Idealnya lokasi yang tepat akan mendatangkan banyak pembeli dan pelanggan loyal ke apotek.

Kriteria Lokasi Apotek yang Ideal

  • Dekat fasilitas kesehatan : rumah sakit, klinik, puskesmas, dokter praktik
  • Kawasan padat penduduk yang bermukim : misalnya di sekitarnya banyak area pemukiman, perumahan, apartemen. atau area residensial
  • Aksesibilitas tinggi (mudah diakses) : misalnya di tepi jalan 2 arus, tersedia area parkir, dekat transportasi umum
  • Dekat dengan kawasan komersial aktif, seperti pasar, ruko, dan pusat perbelanjaan
  • Dekat dengan institusi pendidikan atau perkantoran : mobilitas dan permintaan produk rutin

Metode dalam Analisis Lokasi

Ada beberapa metode yang dapat dilakukan dalam analisis lokasi di studi kelayakan bisnis apotek :

  • Traffic count : menghitung jumlah orang/kendaraan yang lewat/melintas per waktu tertentu di lokasi
  • Catchment area analysis : pemetaan populasi dalam area, misal radius 500m, 1km, dan 2km
  • Analisis fasilitas kesehatan : faskes di sekitar ada berapa (jumlah dokter praktik, klinik, rumah sakit), kira-kira potensi resep harian berapa. Ini nantinya bisa menjadi bahan dalam membangung kerjasama
  • Competitive mapping : peta apotek existing vs gap yang belum terlayani

(Baca juga : Tips Menentukan Lokasi yang Strategis untuk Pendirian Apotek)

Proyeksi Keuangan dan Modal Usaha

Di tahap ini, Anda harus menghitung proyeksi modal, pendapatan, dan pengembalian modal. Ini menjadi penentu untuk menarik pinjaman atau investasi dari investor.

Estimasi Modal

Hitung estimasi modal yang diperlukan, baik modal awal dan estimasi biaya operasional bulanan (karena di awal, apotek tidak langsung memperoleh untung). Besaran kisaran modal untuk membangun apotek sangat bervariasi mulai dari puluhan juta hingga ratusan juta. Bergantung dari apakah Anda membangun sendiri atau franchise/waralaba apotek, lokasi, biaya sewa, kelengkapan perbekalan stok, dan biaya untuk Sumber Daya Manusia.

Modal Awal (Capital Expenditure)
Komponen InvestasiKisaran Biaya
Sewa bangunan dan renovasi20 – 80 juta
Peralatan dan perlengkapan apotek10 – 30 juta
Pengadaan stok awal (3 bulan pertama)50 – 200 juta
Pengurusan izin dan legalitas1 – 5 juta
Sistem IT & software manajemen apotek
(seperti Apotek Digital)
1,8 – 4,3 juta
Contoh komponen modal awal pendirian apotek
Modal Biaya Operasional Bulanan

Selain investasi modal awal, Anda juga perlu memperhitungkan biaya operasional selama paling tidak setahun karena apotek tidak langsung memperoleh laba/keuntungan di awal beroperasi

Komponen BiayaKisaran Biaya/Bulan
Gaji apoteker, TTK, dan karyawan4 – 10 juta
Listrik, air, internet1 – 3 juta
Administrasi, ATK1 juta
Biaya pemasaran1 juta
Contoh estimasi biaya operasional bulanan awal pendirian apotek

(Baca juga : Estimasi Modal Buka Apotek : Panduan Biaya dan Tips Hemat)

Proyeksi Keuangan

Payback period (PP)

Berapa lama modal awal akan kembali. Rata-rata apotek sehat mencapai payback period dalam waktu 2 hingga 3 tahun.

Rumus PP sederhana :

PP = total investasi / laba bersih

Break Event Point (BEP)

BEP (break event point) atau titik impas adalah titik dimana total pendapatan sama dengan total biaya (baik biaya tetap dan biaya variabel). Inilah yang menjadi omzet minimal yang harus dicapai agar apotek tidak untung ataupun tidak rugi.

Rumus BEP sederhana :

BEP = total biaya tetap bulanan / margin kontribusi rata-rata

Contoh : biaya tetap bulanan adalah Rp30 juta, margin rata-rata 25%, maka BEP omzet adalah Rp 120juta/bulan

(Baca juga : Panduan Cara Menentukan Target Omzet yang Menguntungkan Bagi Apotek)

Penentuan Aspek Teknis dan Operasional

Analisis terkait penentuan bagaimana aspek teknis dan operasional di apotek akan dilakukan. Anda perlu merancang bagaiman teknis operasional yang ideal, memudahkan, dan menguntungkan bagi apotek.

Manajemen Stok Obat

  • Bagaimana tata letak (lay out) ruangan
  • Bagaimana rantai pasok (supply chain) : daftar PBF yang akan menjadi mitra dalam melengkapi pengadaan di apotek
  • Produk apa saja yang prioritas dibeli di awal pendirian apotek
  • Sistem pengelolaan stok

Standar Pelayanan Kefarmasian

Pelayanan kefarmasian apa yang akan diadakan di apotek, misal pelayanan resep, konsultasi langsung dengan apoteker, PIO jelas & terdokumentasi, pelayanan BPJS & asurani, dan lain-lain

Sistem Informasi Apotek

Peilihan sistem informasi yang mendukung keberlangsungan apotek. Baik dari software apotek, sistem loyalitas pelanggan, whatsapp business, platform untuk penjualan obat online (PSEF), dan lain-lain

(Baca juga : Teknik Follow Up Pelanggan Apotek Menggunakan WhatsApp)

Strategi Pemasaran Apotek

Analisis dan perumusan strategi pemasaran apa yang akan dilakukan, baik secara offline dan online. Di zaman ini, keberhasilan bisnis sangat dipengaruhi oleh kualitas produk/layanan, dan strategi marketing atau pemasarannya.

Contoh strategi pemasaran apotek :

  • Strategi pemasaran offline
    • Lauching apotek yang menghadirkan keramaian (ini penting untuk mengenalkan apotek)
    • Kemitraan dan membangun relasi dengan dokter praktik dan klinik
    • Program loyalitas apotek, misalnya kartu member, poin reward, diskon khusus, dan lain-lain
    • Membangun dan edukasi komunitas, misalnya konsultasi gratis, seminar kesehatan mini, event cek kesehatan gratis
    • Tampilan apotek yang profesional : kebersihan, kerapihan, tata letak, ruang tunggu nyaman, dan lain-lain
  • Strategi pemasaran online
    • Google business profile (agar apotek muncul di pencarian lokal dan Google Maps)
    • Aktif di media sosial, baik instagram, tiktok, facebook
    • WhatsApp business (untuk layanan konsultasi, pemesanan, dan pengingat obat via chat — membangun hubungan dengan pelanggan)
    • Penjualan online di berbagai kanal, misal di PSEF

(Baca juga : Google My Business Apotek : Manfaat dan Cara Menggunakannya)

Analisis SWOT Bisnis Apotek

Analisis SWOT adalah tool strategis yang digunakan untuk merangkum hasil studi kelayakan bisnis apotek. Di tahap ini, Anda memetakan faktor internal (Kekuatan & Kelemahan) serta faktor eksternal (Peluang & Ancaman) untuk merumuskan strategi memenangkan pasar apotek.

Strength (Kekuatan)

Adalah keunggulan kompetitif yang dimiliki apotek (secara internal) dan membedakan apotek Anda dengan yang lainnya (tidak mudah ditiru kompetitor dalam waktu dekat). Contohnya :

  • Lokasi strategis, di area pemukiman padat penduduk, area parkir luas dan mudah diakses
  • Layanan nilai tambah. Misalnya ada layanan free delivery, konsultasi gratis dengan Apoteker 24 jam, menyediakan cek kesehatan, dan lain-lain
  • Ketersediaan obat yang lengkap dan terjangkau

Weakness (Kelemahan)

Kelemahan adalah keterbatasan internal yang harus Anda perbaiki atau antisipasi. Misalnya :

  • Brand dan apotek baru yang belum dikenal
  • Keterbatasan modal awal
  • Sistem manajemen belum matang
  • Belum tahu kebutuhan produk secara real

Opportunities (Peluang)

Peluang adalah tren, situasi, atau kondisi di luar apotek yang bisa Anda manfaatkan untuk mendongkrak omzet dan pertumbuhan bisnis. Misalnya :

  • Pertumbuhan area pemukiman baru (perumahan/kompleks baru)
  • Tren kesadaran kesehatan meningkat
  • Kemitraan dengan dokter praktik mandiri di sekitar area lokasi
  • Aging populasi (lansia) yang menciptakan permintaan obat jangka panjang yang stabil

Threats (Ancaman)

Adalah tantangan dari luar yang berada di luar kendali Anda, namun dapat mengancam kelangsungan bisnis jika tidak diantisipasi. Misalnya :

  • Perang harga dengan apotek jaringan atau apotek besar
  • Maraknya telemedisin dan penjualan obat online
  • Regulasi dan perizinan yang dinamis, regulasi terkait usaha dan kefarmasian dapat berubah dan mempengaruhi operasional

(Baca juga : 7 SOP Pengelolaan Sediaan Farmasi dan BMHP di Apotek (Disertai Contoh Template))

Kesimpulan : Apakah Bisnis Apotek Layak Dibuka?

Dari hasil studi kelayakan (feasibility study) yang dilakukan, Anda sebagai pebisnis, Apoteker, atau investor dapat menilai apakah bisnis apotek layak didirikan. Dari analisis yang dilakukan, mulai dari analisis pasar, lokasi, aspek teknis, proyeksi keuangan, hinggan analisa SWOT Anda bisa menilai apakah rencana pendirian apotek ini layak diteruskan agar bisa terus tumbuh, berkelanjutan, dan menguntungkan.

Ini hanya awal! Setelah melakukan studi kelayakan bisnis, pengurusan perizinan apotek, mendapatkan SIA, ada PR besar menanti. Apotek harus berjalan dengan rapi, terus tumbuh, dan menguntungkan. Anda tidak bisa mengandalkan sistem manual, dimana manajemen stok yang rumit dan rentan kerugian, berbagai laporan yang menyita waktu & fokus, manajemen karyawan, dan analisis keuangan. Manfaatkan software apotek yang lengkap dan handal : Apotek Digital. Fitur-fiturnya didesain untuk membantu operasional apotek, dengan tampilan yang mudah digunakan dan seamless. Sudah menjadi partner pengelolaan >2000++ apotek aktif se-Indonesia. Anda bisa konsultasi dan coba gratis aplikasinya disini!

Referensi

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2021). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2021 tentang Standar Kegiatan Usaha dan Produk pada Penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko Sektor Kesehatan. Jakarta: Kemenkes RI.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia. (2021). Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 5 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko. Jakarta: Sekretariat Negara.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2016). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 73 Tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek. Jakarta: Kemenkes RI.

Kasmir, & Jakfar. (2019). Studi Kelayakan Bisnis: Edisi Revisi. Jakarta: Prenadamedia Group.

Satibi. (2014). Manajemen Obat di Apotek. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Umar, Husein. (2022). Studi Kelayakan Bisnis: Teknik Menganalisis Kelayakan Rencana Bisnis Secara Komprehensif. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Apotek Digital - Software Apotek Handal, Lengkap, dan Mudah. Yuk daftar di sini Gratis!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *