Glosarium Istilah Farmasi dan Apotek: A–Z untuk Apoteker dan Pemilik Apotek

Apt. Nadia Windyaningrum 11 min read

istilah farmasi apotek

Dunia farmasi memiliki banyak istilah teknis yang sering muncul dalam operasional apotek sehari-hari. Mulai dari nama profesi, konsep pelayanan, hingga komponen biaya. Halaman ini merangkum definisi istilah-istilah paling penting yang terkait apotek, disusun secara alfabetis agar mudah ditemukan.

Gunakan anchor link di bawah untuk langsung loncat ke huruf yang dibutuhkan:

A · B · C · D · E · F · G · H · I · J · K · L · M · N · O · P · Q · R · S · T · U · V · W

A

Administration Error

Administration error adalah salah satu fase dalam medication error yang terjadi pada tahap pemberian atau penggunaan obat, yaitu setelah obat sudah disiapkan dan diserahkan, tapi digunakan secara keliru. Contoh: pasien meminum obat pada waktu yang salah, menggunakan rute pemberian yang salah, atau mengonsumsi dosis yang tidak sesuai petunjuk.

Administration error termasuk dalam kategori Medication Error yang dapat terjadi di empat fase: saat peresepan (prescribing), penyalinan (transcribing), penyiapan (dispensing), dan pemberian (administration). Pencegahannya mencakup edukasi pasien saat penyerahan obat, pemberian etiket yang jelas, dan konseling oleh Apoteker.

(Baca Juga: Medication Error di Apotek: Jenis, Penyebab & Pencegahan)

Alert (High Alert)

Alert artinya peringatan. Dalam konteks farmasi, istilah ini merujuk pada obat-obatan yang masuk ke dalam kategori High Alert. Yaitu obat yang memiliki risiko tinggi menyebabkan cedera serius jika terjadi salah penggunaan, meski kesalahan itu tidak disengaja.

Obat high alert bukan berarti obat yang sering menyebabkan error, melainkan obat yang dampak errornya sangat berbahaya. Contoh: insulin, antikoagulan (heparin, warfarin), obat kemoterapi, dan elektrolit pekat (KCl injeksi). Di apotek, obat high alert wajib diberi stiker khusus, disimpan terpisah, dan memerlukan double-check sebelum diserahkan ke pasien.

(Baca Juga: Obat High Alert di Apotek: Pengertian, Contoh, dan Cara Aman Menyimpannya)

Aplikasi Apotek

Aplikasi apotek adalah perangkat lunak yang didesain untuk membantu administratif dan operasional apotek agar lebih rapi dan minim kesalahan. Mulai dari pencatatan, sistem kasirmanajemen stokmanajemen karyawanpelaporankeuangan, hingga mengatur program promo untuk pelanggan.

(Baca juga: 8 Aplikasi Apotek Terbaik 2026: Review Fitur dan Perbandingan Harga)

B

Barcode

Barcode adalah kode berbasis garis yang menyimpan informasi dalam format yang dapat dibaca oleh alat pemindai (scanner). Dalam konteks apotek, barcode digunakan untuk mengelola stok secara digital, setiap produk memiliki barcode unik yang terintegrasi dengan sistem informasi apotek. Sehingga lebih mudah dalam pencarian produk dan menghindari salah produk.

Manfaat penggunaan barcode di apotek: mempercepat penerimaan barang dari PBF, mengurangi risiko kesalahan input manual, memudahkan penelusuran tanggal kedaluarsa per batch, dan mempercepat transaksi di kasir.

(Baca Juga: Apa Itu Barcode dan Manfaatnya Bagi Bisnis Apotek?)

BEP (Break Event Point)

BEP (Break Event Point) atau titik impas adalah titik dimana total pendapatan sama dengan total biaya (baik biaya tetap dan biaya variabel). Inilah yang menjadi omzet minimal yang harus dicapai agar apotek tidak untung ataupun tidak rugi.

(Baca juga: Panduan Cara Menentukan Target Omzet yang Menguntungkan Bagi Apotek)

C

CPP (Catatan Pengobatan Pasien)

CPP adalah dokumen yang dibuat oleh Apoteker berisi riwayat pengobatan seorang pasien meliputi nama obat yang pernah diterima, dosis, durasi terapi, riwayat alergi, dan catatan klinis yang relevan. Dalam literatur internasional dikenal sebagai Patient Medication Record (PMR).

CPP sangat penting untuk pasien dengan penyakit kronis atau lansia yang menggunakan banyak obat sekaligus (polifarmasi), karena membantu Apoteker mendeteksi potensi interaksi obat, duplikasi terapi, atau efek samping yang berulang. CPP juga menjadi dasar pelaksanaan Pemantauan Terapi Obat (PTO). Kewajiban pencatatannya diatur dalam Permenkes No. 73 Tahun 2016.

(Baca Juga: Apa Itu Rekam Medis Elektronik dan Manfaatnya untuk Apotek)

D

Defekta

Defekta adalah catatan atau daftar obat dan produk yang stoknya hampir habis atau sudah mencapai batas minimum sehingga perlu segera dipesan ke PBF. Istilah ini juga merujuk pada buku defekta yaitu dokumen fisik atau digital yang menjadi alat perencanaan pengadaan apotek.

Tanpa sistem defekta yang baik, apotek berisiko mengalami kekosongan obat yang menyebabkan kehilangan penjualan, atau sebaliknya kelebihan stok yang berujung pada obat kadaluarsa. Buku defekta berisi daftar produk apa yang harus dipesan dan berapa kuantitasnya.

(Baca Juga: Mengapa Cek Defecta Penting dalam Pengadaan Produk Apotek?)

Dispensing

Dispensing adalah kegiatan penyiapan dan penyerahan obat kepada pasien sesuai dengan resep dokter. Proses ini mencakup aktivitas verifikasi resep, pengambilan obat dari rak penyimpanan, penghitungan atau peracikan dosis, pemberian etiket, dan penyerahan disertai informasi penggunaan.

Dispensing error dapat terjadi dalam proses ini, misalnya mengambil obat yang mirip kemasan (LASA), salah menghitung dosis racikan, atau salah memberi etiket. Double-check sebelum penyerahan adalah standar pencegahan yang wajib diterapkan.

(Baca Juga: Bagaimana Cara Melakukan Dispensing yang Baik di Apotek (Panduan Lengkap & Sesuai Standar))

Dead stock

Dead stock atau stok mati adalah stok produk yang tidak terjual atau tidak ada transaksi produk tersebut dalam waktu tertentu (biasanya dalam tiga bulan). Adanya deadstock (stok mati) perlu dicegah karena merugikan apotek. Stok mati akan merugikan apotek karena meningkatkan biaya penyimpanan, meningkatkan risiko produk rusak dan kadaluarsa sebelum terjual.

(Baca juga: Tips Mencegah Dead Stock atau Stok Mati pada Pengelolaan Persediaan di Apotek)

E

Embalase

Embalase adalah biaya yang dikenakan untuk pengemasan, pelabelan, dan penyediaan wadah obat sebelum diberikan kepada pasien. Berdasarkan Permenkes No. 73 Tahun 2016, embalase merupakan bagian dari proses pelayanan resep yang mencakup kemasan primer, kemasan sekunder, dan alat bantu agar obat tetap aman hingga ke tangan pasien.

Embalase mencakup: plastik klip, pot, atau botol untuk obat racikan; kertas puyer; sendok takar untuk sirup; serta label/etiket. Embalase berbeda dari tuslah. Tuslah adalah jasa peracikan, sedangkan embalase adalah biaya bahan pengemasan. Di layanan BPJS/JKN, biaya embalase sudah termasuk dalam paket pembayaran sehingga tidak boleh ditagihkan terpisah.

Etiket

Etiket adalah label yang ditempelkan pada kemasan obat yang diserahkan kepada pasien. Berisi informasi penting untuk memastikan obat digunakan dengan benar. Wajib mencantumkan: nama pasien, nama obat, dosis, aturan pakai, tanggal penyerahan, nama apotek, dan nama Apoteker penanggung jawab.

Terdapat dua jenis etiket: etiket putih untuk obat yang diminum (oral), dan etiket biru untuk obat yang digunakan secara topikal atau non-oral (salep, tetes mata, tetes telinga, dll).

F

Faktur Obat

Faktur obat adalah dokumen resmi yang diterbitkan oleh PBF sebagai bukti transaksi penjualan obat kepada apotek yang menjadi dasar pencatatan penerimaan barang dan penghitungan HNA di sistem keuangan apotek.

Dokumen faktur wajib memuat: nama PBF, nama apotek penerima, nama obat, kekuatan sediaan, jumlah, diskon, PPN, dan total nilai transaksi. Dokumen ini harus diarsipkan untuk keperluan pelaporan, audit, dan klaim retur barang ke PBF.

(Baca Juga: Perbedaan Faktur Pembelian dan Penjualan di Apotek : Fungsi dan Penerapannya)

Fast Moving

Fast moving artinya obat atau produk yang perputaran stoknya cepat, terjual dalam volume tinggi dalam periode waktu tertentu. Kebalikannya adalah slow moving, yaitu produk yang perputarannya lambat dan berisiko mengendap hingga kadaluarsa.

Analisis fast moving biasanya dilakukan menggunakan metode Pareto (80/20) atau analisis ABC, di mana sekitar 20% produk menyumbang 80% total penjualan.

(Baca Juga: Strategi Jitu Mengelola Obat Fast Moving vs Slow Moving di Apotek)

FEFO (First Expired First Out)

FEFO (first expired first out) adalah konsep metode pengeluaran stok berdasarkan urutan tanggal kadaluarsa; produk yang kadaluarsanya paling dekat dikeluarkan lebih dahulu, terlepas dari kapan produk tersebut masuk ke gudang. Metode ini menjadi umum dilakukan di apotek karena sifat obat yang memiliki waktu kadaluarsa (ED). Biasanya metode FEFO akan lebih diprioritaskan daripada metode FIFO (first in first out).

(Baca juga: Tips Mencegah Obat Kadaluarsa di Apotek)

G

Generik (Obat Generik)

Obat generik adalah obat yang menggunakan nama zat aktifnya secara langsung sebagai nama produk, bukan nama dagang. Contoh: Paracetamol, Amoksisilin, Metformin.

Terdapat dua jenis: generik berlogo (ditandai lingkaran hijau, diproduksi sesuai standar Kemenkes) dan generik bermerek atau branded generic (dijual dengan nama dagang tertentu). Obat generik memiliki kualitas, keamanan, dan efektivitas yang setara dengan obat originator, namun dijual dengan harga jauh lebih terjangkau.

(Baca Juga: Obat Paten vs Obat Generik, Apa Perbedaannya?)

H

HET (Harga Eceran Tertinggi)

HET adalah batas harga jual maksimal yang ditetapkan oleh pemerintah untuk obat-obatan tertentu, terutama obat generik dan obat program pemerintah. Apotek tidak diperbolehkan menjual obat yang memiliki HET di atas harga yang telah ditetapkan melalui Keputusan Menteri Kesehatan.

HJA (Harga Jual Apotek)

HJA adalah harga final yang dibayarkan pasien saat membeli obat di apotek, dihitung dari HNA ditambah PPN, kemudian ditambahkan markup dan komponen biaya lain seperti embalase.

Rumus HJA: HJA = (HNA + PPN) × (1 + markup%) + embalase

(Baca Juga: Bagaimana Cara Menentukan Harga Jual Obat di Apotek?)

HNA (Harga Netto Apotek)

HNA adalah harga beli resmi obat dari PBF yang sudah memperhitungkan diskon, namun belum termasuk PPN. Harga netto ini menjadi titik awal penghitungan Harga Jual Apotek (HJA).

IstilahDefinisi
HNAHarga beli dari PBF setelah diskon, belum termasuk PPN
HNA + PPNHarga modal sesungguhnya yang dikeluarkan apotek
HJAHarga jual ke pasien = (HNA + PPN) × markup + embalase
MarginSelisih HJA dan HNA, dinyatakan dalam persentase dari HJA
MarkupPersentase keuntungan yang dihitung dari HNA

I

Inkaso

Inkaso adalah proses penagihan pembayaran atas hutang pembelian obat dari apotek kepada PBF. Dalam sistem perdagangan obat, apotek umumnya membeli secara kredit; barang diterima dahulu, pembayaran dilakukan pada jatuh tempo yang disepakati (biasanya 14–30 hari). Apotek yang tertib membayar inkaso akan mendapatkan kepercayaan kredit yang lebih besar dari PBF.

(Baca juga: Tips Memilih Distributor Obat PBF yang Tepat di Apotek)

J

JKN (Jaminan Kesehatan Nasional)

JKN adalah program jaminan kesehatan yang diselenggarakan oleh BPJS Kesehatan. Apotek yang ingin melayani pasien JKN harus terdaftar sebagai apotek yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan.

Dalam skema JKN, apotek menerima klaim pembayaran dari BPJS berdasarkan resep yang dilayani. Jenis obat yang dapat dilayani mengacu pada Formularium Nasional (Fornas) yaitu daftar obat yang ditanggung JKN. Obat di luar Fornas tidak dapat diklaim ke BPJS.

K

Kartu Stok

Kartu stok adalah dokumen pencatatan mutasi (keluar-masuk) obat secara individual per nama produk. Setiap penerimaan dari PBF atau pengeluaran untuk pelayanan dicatat di kartu stok secara real-time.

Kartu stok bisa berbentuk fisik maupun digital dalam sistem informasi apotek. Berdasarkan Permenkes No. 73 Tahun 2016, pencatatan kartu stok wajib dilakukan, terutama untuk narkotika dan psikotropika. Kartu stok yang akurat adalah fondasi dari sistem defekta dan stock opname yang valid.

(Baca Juga: Kartu Stok Obat : Apa Fungsinya dan Bagaimana Membuatnya?)

Kadaluarsa

Kadaluarsa adalah batas waktu penggunaan obat yang dinyatakan aman dan efektif oleh produsen/manufaktur obat. Setelah melewati tanggal kedaluarsa, obat tidak boleh dijual atau diberikan kepada pasien, dan wajib dikelola melalui prosedur pemusnahan sesuai regulasi Permenkes No. 73 Tahun 2016. Info mengenai waktu kadaluarsa (expired date) tertera di kemasan obat dan merupakan hasil uji stabilitas dari produsen.

(Baca Juga: Penanganan Obat Kadaluarsa di Apotek : Panduan dan Regulasi Terbaru)

L

LASA (Look Alike Sound Alike)

LASA adalah kategori obat yang memiliki kemiripan tampilan fisik (kemasan, warna, bentuk) atau kemiripan nama dengan obat lain, sehingga berpotensi menimbulkan kesalahan dalam pengambilan atau pemberian. Obat LASA termasuk ke dalam kategori obat high alert.

Contoh pasangan LASA yang umum: Glibenklamid dan Glimepiride, Dopamin dan Dobutamin, Captopril dan Carvedilol. Penanganannya meliputi stiker label LASA, penyimpanan terpisah secara fisik, dan penulisan nama dengan Tall Man Lettering.

M

Margin

Margin adalah persentase keuntungan yang dihitung dari harga jual (HJA). Berbeda dari markup yang dihitung dari harga beli.

Rumus margin: Margin (%) = (HJA − HNA) ÷ HJA × 100%

Contoh: HNA Rp10.000, HJA Rp13.000 → margin = 3.000 ÷ 13.000 × 100% = 23%.

(Baca Juga: Panduan Cara Menghitung Margin Keuntungan Apotek)

Markup

Markup adalah persentase keuntungan yang ditambahkan di atas harga modal (HNA + PPN) untuk menghasilkan harga jual. Dihitung dari harga beli, bukan harga jual.

Rumus markup:Markup (%) = (HJA − HNA) ÷ HNA × 100%

Kisaran markup di apotek umumnya antara 10–40%, tergantung jenis obat, ada tidaknya resep, dan kebijakan apotek masing-masing.

(Baca Juga: Margin vs Markup: Apa Bedanya dan Kenapa Apoteker Sering Tertukar?)

Medication Error

Medication error adalah setiap kejadian yang dapat dicegah yang menyebabkan atau berpotensi menyebabkan penggunaan obat yang tidak tepat atau membahayakan pasien. Dapat terjadi di empat fase: prescribing, transcribing, dispensing, dan administration. Pencegahan dilakukan dengan verifikasi 5 Benar: benar pasien, obat, dosis, rute, dan waktu.

N

Narkotika

Narkotika adalah zat atau obat yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, menghilangkan rasa nyeri, dan menimbulkan ketergantungan. Dalam operasional apotek, narkotika hanya dapat dipesan menggunakan Surat Pesanan (SP) Narkotika khusus, disimpan dalam lemari terkunci ganda, dan dilaporkan penggunaannya setiap bulan melalui SIPNAP. Diatur dalam Permenkes No. 5 Tahun 2023.

O

Omzet Apotek

Omzet di dalam bisnis apotek adalah total uang atau pendapatan yang didapatkan dari hasil penjualan produk ataupun jasa di apotek dalam waktu tertentu. Misalnya omzet 1 hari, 1 bulan, 1 semester, ataupun 1 tahun. Hasil penjualan tersebut belum dikurangi dengan HPP (harga pokok penjualan atau harga modal) dan biaya (seperti gaji karyawan, biaya listrik, biaya internet). Sehingga, dapat dikatakan bahwa omzet adalah laba kotor atau pendapatan kotor dari bisnis yang dijalankan

(Baca juga: Omzet Apotek Besar Tapi Cash Pas-Pasan? Ini Dia Alasannya!)

OTC (Over The Counter)

OTC adalah istilah untuk obat yang dapat dibeli tanpa resep dokter. Di Indonesia dibagi menjadi dua golongan: obat bebas (lingkaran hijau) dan obat bebas terbatas (lingkaran biru). Dari sisi bisnis apotek, produk OTC menyumbang volume transaksi terbesar karena dapat dilayani tanpa antrian resep dokter.

(Baca Juga: Tips Penyusunan Produk di Apotek untuk Meningkatkan Penjualan)

P

Pareto

Pareto atau analisis ABC adalah analisis pendekatan dengan menggunakan prinsip 80/20 untuk membantu apotek mengelola stok dan penjualan secara lebih efisien. Analisis Pareto di apotek atau ABC mengelompokkan item persediaan di apotek menjadi 3 kelompok (A, B, atau C) berdasarkan kebutuhan dana kemudian dilihat kontribusinya terhadap total penjualan dan keuntungannya. Konsepnya adalah pengendalian terhadap 20% dari item obat sudah menentukan pengendalian terhadap 80% dari nilai pemakaian.

(Baca juga : Analisis Pareto: Cara Efektif Membuat Perencanaan di Apotek)

PBF (Pedagang Besar Farmasi)

PBF adalah perusahaan berbentuk badan hukum yang memiliki izin untuk mengadakan, menyimpan, dan menyalurkan sediaan farmasi dalam jumlah besar kepada apotek, rumah sakit, puskesmas, dan fasilitas kesehatan lainnya. Pedagang Besar Farmasi merupakan perantara antara pabrik obat dan apotek.

(Baca Juga: Panduan Lengkap CDOB dalam Distribusi Farmasi PBF di Indonesia)

Pharmacist

Pharmacist adalah istilah bahasa Inggris untuk Apoteker, yaitu tenaga kesehatan profesional yang berwenang melakukan praktik kefarmasian. Di Indonesia wajib memiliki gelar S.Farm (Sarjana Farmasi) dan Apt., (Apoteker). Dan memiliki dokumen resmi STRA (Surat Tanda Registrasi Apoteker) yang dikeluarkan oleh Ikatan Apoteker Indonesia, dan SIPA (Surat Izin Praktek Apoteker) untuk di Apotek maupun SIP (Surat Izin Praktek) yang bekerja di Industri.

(Baca Juga: Tidak Hanya di Apotek, Ini Dia Prospek Kerja Apoteker!)

PIO (Pelayanan Informasi Obat)

PIO dalam farmasi adalah kegiatan penyediaan dan pemberian informasi obat yang independen, akurat, tidak bias, dan komprehensif oleh Apoteker kepada dokter, tenaga kesehatan lain, pasien, maupun masyarakat umum. Mencakup informasi tentang indikasi, dosis, efek samping, interaksi, kontraindikasi, dan cara penyimpanan obat.

(Baca Juga: Optimalkan Pelayanan Informasi Obat (PIO) di Apotek: Panduan Lengkap & Manfaatnya)

Psikotropika

Psikotropika adalah zat atau obat yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat, menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku. Dibagi menjadi empat golongan. Seperti narkotika, memerlukan SP khusus, penyimpanan terpisah, dan pelaporan bulanan via SIPNAP.

PTO (Pemantauan Terapi Obat)

PTO adalah proses sistematis yang dilakukan Apoteker untuk memastikan setiap pasien mendapatkan terapi obat yang paling efektif, aman, dan sesuai kondisi klinisnya. Mencakup identifikasi Drug Related Problems (DRP) dan pemantauan efektivitas terapi. Terutama penting untuk pasien dengan polifarmasi atau penyakit kronis.

(Baca Juga: Pemantauan Terapi Obat (PTO) Oleh Apoteker di Apotek)

Q

QC Penerimaan Obat (Quality Control)

QC penerimaan obat adalah proses pemeriksaan kualitas obat yang dilakukan apotek saat menerima kiriman dari PBF, sebelum barang resmi masuk ke stok. Pemeriksaan mencakup kesesuaian nama obat, kekuatan sediaan, jumlah, nomor batch, tanggal kedaluarsa, kondisi fisik kemasan, dan kesesuaian dengan Surat Pesanan serta faktur.

QC penerimaan adalah tahap kritis. Jika nomor batch tidak cocok dengan faktur atau kemasan rusak, apotek berhak menolak barang sebelum ditandatangani. Setelah ditandatangani, proses retur menjadi jauh lebih rumit.

(Baca Juga: Hal yang Harus Diperhatikan Saat Penerimaan Obat di Apotek)

R

Resep

Resep adalah permintaan tertulis dari dokter, dokter gigi, atau dokter hewan kepada Apoteker untuk menyediakan dan menyerahkan sediaan farmasi atau alat kesehatan bagi pasien yang wajib disimpan minimal 5 tahun sebelum dapat dimusnahkan.

(Baca Juga: Meracik Obat : Tidak Semua Obat Boleh Digerus dan Diracik)

Retur

Retur adalah proses pengembalian obat dari apotek kepada PBF karena alasan tertentu, misalnya mendekati atau sudah kadaluarsa, kemasan rusak, salah kirim, atau ada penarikan produk (recall) oleh BPOM. Umumnya retur hanya bisa dilakukan jika diajukan minimal 3 bulan sebelum tanggal kadaluarsa, tergantung kebijakan masing-masing PBF.

S

Sediaan Farmasi

Sediaan farmasi adalah obat, bahan obat, obat tradisional, dan kosmetika, sebagaimana didefinisikan dalam UU No. 36 Tahun 2009. Dalam konteks operasional apotek, istilah ini merujuk pada berbagai bentuk sediaan obat: tablet, kapsul, sirup, salep, tetes, injeksi, suppositoria, dan lainnya.

(Baca Juga: Panduan Pengelolaan Sediaan Farmasi di Apotek Sesuai dengan Peraturan Terbaru)

SIPNAP (Sistem Pelaporan Narkotika dan Psikotropika)

SIPNAP adalah sistem pelaporan online yang dikelola Kemenkes untuk memantau penggunaan narkotika dan psikotropika di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan, termasuk apotek. Apotek wajib melaporkan penerimaan dan pengeluaran narkotika dan psikotropika setiap bulan, paling lambat tanggal 10 untuk periode bulan sebelumnya. Apotek yang tidak melaporkan secara rutin dapat dikenakan sanksi administratif.

(Baca Juga: Panduan SIPNAP Terbaru: Cara Gunakan Sistem Perizinan Apotek Online dengan Mudah)

Stock Opname

Stock opname adalah kegiatan penghitungan dan pencocokan fisik stok obat di apotek dengan data yang tercatat di sistem, untuk memastikan keduanya sesuai. Dilakukan berkala (idealnya tiap bulan) untuk mendeteksi selisih stok (shrinkage), mengidentifikasi obat mendekati kadaluarsa, dan memperbaharui data defekta.

(Baca Juga: Strategi Efektif Meminimalkan Selisih Stock Opname Apotek : Studi Kasus)

Stok (Stock)

Stok atau stock, keduanya diterima, namun “stok” adalah bentuk baku dalam bahasa Indonesia. Dalam konteks apotek, stok merujuk pada jumlah persediaan obat yang tersedia pada waktu tertentu, dikelola menggunakan sistem FEFO dan dipantau melalui kartu stok serta defekta.

(Baca Juga: Prediksi Stok Apotek dengan AI : Strategi Anti Rugi di Tahun 2026)

Surat Pesanan (SP)

Surat pesanan adalah dokumen tertulis yang dibuat oleh Apoteker sebagai dasar pemesanan sediaan farmasi kepada PBF. Wajib ditandatangani oleh Apoteker Penanggung Jawab. Terdapat beberapa jenis SP berdasarkan produknya: SP obat biasa, SP narkotika (satu lembar per satu jenis), SP psikotropika, dan SP prekursor yang masing-masing dengan format dan alur yang berbeda sesuai regulasi.

(Baca Juga: Jenis Surat Pesanan Obat (SP) di Apotek)

T

Three Prime Question

Three prime question adalah metode konseling farmasi berupa tiga pertanyaan dasar yang diajukan Apoteker untuk memastikan pasien memahami obatnya:

  1. “Apa yang dokter sampaikan tentang obat ini?”
  2. “Bagaimana cara dokter menjelaskan cara penggunaannya?”
  3. “Apa yang dokter sampaikan tentang harapan dari pengobatan ini?”

Metode ini digunakan untuk menilai pemahaman awal pasien, kemudian Apoteker melengkapi atau mengoreksi informasi yang kurang tepat.

Tuslah

Tuslah adalah biaya jasa pelayanan kefarmasian atas pekerjaan peracikan obat oleh Apoteker atau TTK. Berbeda dari embalase yang merupakan biaya bahan pengemasan, tuslah adalah kompensasi atas jasa meracik. Umumnya dikenakan untuk resep racikan seperti puyer, kapsul racikan, atau salep racikan.

U

Utang Usaha

Utang usaha adalah kewajiban pembayaran apotek kepada PBF atas pembelian obat secara kredit yang belum dilunasi. Dalam laporan keuangan apotek, utang usaha masuk sebagai kewajiban jangka pendek (current liabilities). Apotek yang konsisten membayar tepat waktu biasanya mendapatkan limit kredit yang lebih tinggi dan harga yang lebih kompetitif dari PBF.

(Baca Juga: Pentingkah Mencatat Utang Piutang di Apotek?)

V

Verifikasi Resep

Verifikasi resep adalah proses pemeriksaan resep dokter oleh Apoteker sebelum obat disiapkan yang mencakup tiga aspek; administratif (kelengkapan identitas dokter dan pasien), farmasetika (kesesuaian bentuk sediaan, dosis, dan cara penggunaan), serta klinis (indikasi, interaksi obat, kontraindikasi, dan duplikasi terapi).

Tahapan ini merupakan tahap kritis dalam mencegah medication error. Jika ditemukan ketidaksesuaian, Apoteker wajib mengkonfirmasi kepada dokter penulis resep sebelum melanjutkan proses dispensing.

(Baca Juga: Panduan Alur Pelayanan Resep di Apotek)

W

Wholesaler

Wholesaler adalah istilah umum untuk distributor atau pedagang grosir, dalam konteks farmasi Indonesia setara dengan PBF (Pedagang Besar Farmasi). PBF membeli obat dalam jumlah besar dari pabrik dan menyalurkannya ke apotek, rumah sakit, dan klinik. Apotek biasanya bekerja sama dengan beberapa wholesaler sekaligus, dipilih berdasarkan kelengkapan produk, harga, kecepatan pengiriman, dan fleksibilitas kredit.

(Baca Juga: Rahasia PBF Disukai Apotek : 7 Kunci Pelayanan untuk Keuntungan Maksimal)

Itulah beberapa glosarium istilah yang sering ada di dunia farmasi dan apotek. Bagi Anda yang ingin mengelola apotek, klinik, PBF, toko obat secara lebih efisien dan mudah, bisa coba aplikasi Apotek Digital. Fiturnya lengkap dan disesuaikan dengan kebutuhan apotek, toko obat, klinik dan PBF. Coba gratis atau konsultasi disini!

Referensi

  1. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 73 Tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek
  2. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 5 Tahun 2023 tentang Narkotika, Psikotropika, dan Prekursor Farmasi
  3. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan
  4. Pelayanan Informasi Obat (PIO) dan Farmasi Klinik. farmasetika.com
  5. Three Prime Question dalam Konseling Farmasi. mandiradistra.com/bisnis-farmasi/three-prime-question/
  6. Embalase Obat: Definisi, Fungsi, dan Regulasi. aido.id/his/embalase-obat/detail
  7. Modul PKPO dan Medication Error. Instalasi Farmasi. 2022
  8. Pedoman Praktik Apoteker. Ikatan Apoteker Indonesia (IAI). 2013

Apotek Digital - Software Apotek Handal, Lengkap, dan Mudah. Yuk daftar di sini Gratis!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *